Syekh Zakaria, Anak Yatim yang Bersemangat Mencari Ilmu - IBTimes.ID
Inspiring

Syekh Zakaria, Anak Yatim yang Bersemangat Mencari Ilmu

4 Mins read

Nama lengkapnya adalah Zainuddin Abu Yahya Zakaria bin Muhammad bin Ahmad bin Zakaria al-Anshari al-Khazraji as-Sunaiki al-Qahiri al-Azhari asy-Syafi’i, atau yang kerap disapa dengan panggilan Syekh Zakaria al-Anshari.

Tak ada kepastian tahun kelahirannya, namun Imam As-Suyuthi, ulama yang hidup semasa dengannya dan juga teman seperjuangannya, memprediksi tahun kelahiran Syekh Zakaria al-Anshari adalah 824 H, di Sunaikah, desa kecil yang terletak antara kota Bilbis dan al-Abbasiyah, timur kota Mesir.

Sejak kecil Zakaria telah ditinggal wafat ayahnya. Ia merupakan putra satu-satunya pasangan suami-istri yang berpisah oleh kematian. Hanya berdua dengan ibunya, Zakaria kecil menjalani kehidupan yang cukup berat, ia harus rela berpisah dengan ayah semata wayangnya.

Syekh Zakaria: Semangat dalam Menuntut Ilmu

Namun, dalam keadaan seperti itu tidak menjadikan Zakaria kecil putus asa untuk mendalami ilmu. Bahkan, semasa tinggal di Desa Sunaikah, Zakaria kecil selalu bersemangat untuk bisa membaca Al-Qur’an, dan ia mulai mempelajari kitab ‘Umdah al-Ahkam dan Mukhtashar at-Tabrizi. Tidak hanya sekedar membaca, Zakaria kecil berusaha mamahami dan menghafalnya.

Syekh al-Ghuzzi menceritakan dari Syaikh Shalih as-Sulami bahwa suatu ketika Syaikh Shalih berkunjung ke Desa Sunaikah, kampung halaman Syekh Zakaria, dan mendapati seorang perempuan yang meminta pekerjaan kepadanya, hal itu demi memenuhi kebutuhan keluarganya dan ingin mewujudkan cita-cita anaknya yang mulia. Namun ternyata, wanita itu tak lain adalah ibunda Syekh Zakaria al-Anshari.

Setelah Syekh Shalih mengetahui bahwa ia ibunda dari Zakaria, akhirnya ia mengatakan pada ibunda yang terlihat sudah sangat tua itu, “Jika Ibu setuju, akan saya bawa Zakaria ke Al-Azhar untuk membantu pekerjaan dan sekaligus belajar di sana. Saya akan menanggung kehidupannya.

Baca Juga  Tidak Semua Ilmu Boleh Disebarkan!

Dengan rasa iba dan sedih, sang ibu harus rela melepaskan Zakaria, anak semata wayang yang selalu menemaninya; siang dan malam, susah dan senang. Ia harus rela ditinggalkan oleh anaknya demi masa depannya yang mulia.

Begitupun dengan Zakaria kecil, ia harus rela berpisah dengan ibundanya sendiri. Siapa yang tidak sedih, ketika harus meninggalkan orang yang paling dicinta? Namun, demi cita-cita yang mulia, dan keinginan yang luhur, keduanya sama-sama ikhlas.

Sikap semangat Zakaria ketika ada di Al-Azhar ternyata tidak kalah dengan semangatnya saat masih ada di Sunaikah, bahkan semangatnya dalam mempelajari ilmu begitu menggelora. Terbukti Dalam rentang waktu yang terbilang pendek, Zakaria muda telah hafal Al-Qur’an dan beberapa kitab, seperti al-Minhaj, al­fiah Ibn Malik, Asy-Syathibiyah, al-Fiah al-Hadits, dan beberapa kitab lainnya.

Rihlah Pertama ke Al-Azhar

Inilah rihlah pertama Zakaria belajar ke Al-Azhar. Ia sama sekali tidak menyia-nyiakan waktunya selama satu tahun, belajar dengan tekun, menghafal dengan istiqamah, akhirnya ia telah menghafal berbagai kitab karangan ulama salaf. Meski berangkat dari keluarga serba kurang, ternya ia mampu mewarnai dengan kemuliaan.

Akhirnya, selesailah rihlah pertamanya di Al-Azhar. Bukannya ingin meninggalkan tempat perantauannya dalam mencari ilmu, hanya saja rasa rindu pada orang tua sudah tak tertahankan. Ketika masa libur telah tiba, ia kembali ke kampung halamannya, untuk membantu ibundanya yang sedang sendiri. Setibanya di sana, tangis bahagia tentu menghiasi keduanya, ibaratkan pertemuan pertama Nabi Ya’qub dan Nabi Yusuf, yang telah lama tidak bersua.

Beberapa waktu kemudian, masa liburnya telah habis. Zakaria muda harus kembali lagi ke Kairo untuk kembali belajar di Al-Azhar. Pada rihlah keduanya ini, ia belajar berbagai kitab yang lebih luas daripada kitab-kitab yang ia pelajari di rihlahnya yang pertama. Zakaria mempelajari kitab Syarh al-Bahjah, yang kemudian olehnya semakin diperluas menjadi kitab al-Gharar al-Bahiyah fi Syarh al-Bahjah al-Wardiyah.

Tidak hanya itu, Zakaria mempelajari hampir semua kitab dalam berbagai macam cabang keilmuan, termasuk matematika, seni menulis indah, dan ilmu retorika. Semangatnya yang begitu besar untuk belajar, dan ketekunanya yang sangat istiqamah telah menempatkannya pada hasil yang memuaskan. Ia tidak hanya mampu memahami isi dari kitab-kitab para ulama, namun ia justru menghafal semua kitab-kitab itu.

Baca Juga  Kalam Modern sebagai Penengah atas Persoalan Ketuhanan dan Kemanusiaan

Dengan semangat dan istiqamah yang selalu menggelora dalam jiwa Zakaria, akhirnya ia mendapatkan apa yang dia inginkan. Ia telah diakui oleh guru-gurunya sebagai murid yang sudah menguasai berbagai ilmu, dan layak untuk menyebarkannya. Tidak hanya itu, para gurunya memberi pujian dan ijazah yang sempurna.

Prestasi dalam Menuntut Ilmu

Tak kurang dari 150 ijazah diberikan kepadanya, termasuk ijazah dari Syekh Allamah Al-Hafiz Ibnu Hajar al-Atsqalani, yang menuliskan kata-kata dalam ijazahnya, “Aku izinkan bagi Zakaria untuk membaca Al-Qur’an dengan jalur periwayatan yang ditempuhnya, dan mengajarkan fiqih yang telah dituliskan dan diserahkan oleh Imam asy-Syafi’i. Kepada Allah, kami, aku dan Zakaria, memohon pertolongan untuk kelak dapat bersua dengan-Nya.”

Para ulama selain Imam Ibnu Hajar al-Atsqalani juga memberikan pujian dan izin yang sama. Sehingga, sebagaimana dikatakan Syekh al-‘Aydarusi, sudah menjadi hal yang lumrah bilamana Zakaria muda telah dibolehkan mengajar di samping para gurunya. Inilah yang menjadi cikal bakal ia menjadi ulama alim dan allamah pada waktu berikutnya

Tentang akhlaqnya, Syekh al-‘Alai berkata, “al-Qadhi Zakaria telah menyatukan ilmu pengetahuan, wawasan, dan karya tulisnya, dengan akhlaqnya yang mulia dan kebaikan langkahnya di hadapan para ulama besar yang diambil ilmunya, dan belum pernah ada pada ulama sebayanya.”

Syekh Zakria al-Anshari, sebagai sosok yang paham akan ilmu agama, tentu tidak melupakan jasa Syaikh Shalih as-Sulami beserta keluarganya, yang telah merawatnya dengan penuh perhatian dan diberlakukan layaknya anak sendiri.

***

Syekh Zakaria mengatakan kepadanya, “Bagiku, Syaikh Shalih adalah orang yang utama, sangat berperan penting dalam hidupku. Maka mudah-mudahan Allah mencukupi segala kebutuhannya, mengangkat kemuliaan untuknya dan keluarganya, khususnya istrinya, yang telah membesarkan dan merawatku.”

Baca Juga  Kasman Singadimeja, Pejuang Islam dan Kebangsaan yang Teguh

Namun tidak sepenuhnya Syekh Zakaria saat belajar di Al-Azhar mengandalkan penghidupan yang diberikan dengan penuh kasih sayang dari keluarga Syaikh Shalih itu. Pernah suatu ketika ia memilih untuk meninggalkan kediaman keluarga yang amat baik kepadanya itu, dengan menetap di emperan masjid Al-Azhar. Bila malam terasa dingin dan membuat perutnya lapar, ia menahannya, atau terpaksa memakan sisa makanan, seperti kulit semangka, yang sudah dibuang di tempat sampah.

Potret sederhana yang ditunjukkan oleh Syekh Zakaria al-Anshari begitu menginspirasi. Ternyata, semangat dan istiqamah menjadi pokok paling penting untuk mendapatkan ilmu. Apalah arti dunia yang melimpah dan materi yang serba lengkap, jika dirinya tidak bisa mengendalikan itu semua. Bahkan, untuk mendapatkan cita-citanya yang mulia, ia harus rela meninggalkan ibundanya dengan keadaan sendiri, dan ia rela menahan rasa lapar yang dirasakannya, bahkan dengan suka rela mencari sisa-sisa makanan yang telah dibuang di tempat sampah.

Editor: Yahya FR

Sunnatullah
17 posts

About author
Santri dan pengajar di Pondok Pesantren Al Hikmah Bangkalan
Articles
Related posts
Inspiring

Hasbi Ash-Shiddieqy, Penggagas Fikih Berkepribadian Indonesia

2 Mins read
Sebagai wadah keilmuan bangsa Indonesia yang pluralistik, kitab suci Al-Qur’an merupakan sumber hukum dan nutrisi jiwa bagi manusia. Dan sosok layaknya Tengku…
Inspiring

Kesederhanaan Buya Syafii yang Membuat Kita Malu

4 Mins read
Waktu itu matahari sudah hampir terbenam. Menunjukkan tanda bahwa malam akan segera tiba. Erik Tauvani datang ke rumah Buya Syafii Maarif di…
Inspiring

‘Izz al-Din Ibn Abd al-Salam: Ulama Pejuang Nahi Munkar

4 Mins read
‘Izz al-Din Ibn Abd al-Salam – Dalam tulisan Penulis sebelumnya, yang berjudul Dari Rasjidi sampai Hamka: Siapa Penerus Estafet Nahi Munkar Selanjutnya?,…

Tinggalkan Balasan