Tuntunan Khutbah Jum'at - IBTimes.ID
Ibadah

Tuntunan Khutbah Jum’at

4 Mins read

Khutbah Jum’at merupakan suatu yang sangat penting bagi setiap kaum muslimin yang melaksanakan salat Jum’at. Karena khutbah Jumat menurut kesepakatan para Ahli Fiqh sebagai syarat sahnya salat jum’at, sebagaimana firman Allah SWT:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (QS. Al-Jumu’ah 62: 9).

Kata al-Dzikr dalam ayat tersebut adalah khutbah, sehingga tidak salat jum’at tanpa
khutbah. Oleh sebab itu, Nabi SAW menyatakan:

“Salatlah kamu sebagaimana kamu melihat salat-ku”.

Begitu pentingnya khutbah jum’at sampai setiap orang yang melakukan suatu aktivitas yang lain seperti bermain krikil atau lainnya maka menjadi sia-sia salat jum’atnya (tidak mendapatkan pahala sisi Allah).

Sebagaimana dinyatakan dalam hadis Nabi SAW:

“Dari Ibnu Syihab berkata, telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Musayyab
bahwasanya Abu Hurairah memberitahukannya bahwa Rasulullah SAW bersabda: Apabila kamu mengatakan kepada taeman-mu pada hari Jum’at, diamlah! Sedangkan imam sedang berkhutbah maka ibadah jumat-nya ”.
(HR. Al-Bukhari)

“Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa yang berwudu, lalu
membaguskan wudunya kemudian datang ke masjid, lalu
mendengarkan khutbah dan diam maka dia diampuni dosanya antara jum’at kepada jum’at dan ditambah tiga. Barang siapa yang menyentuh (bermain) kerikil atau lainnya, maka ibadah jumatnya sisa-sia”. (HR. Abu Dawud)

Dalam pada itu, perlu diperhatikan bagi orang yang menyampaikan khutbah (khatib) tentang syarat dan rukun khutbah jum’at. Maka dalam makalah ini akan disampaikan mengenai tuntunan khutbah jum’at yang berkaitan dengan syarat dan rukunnya yang diurutkan dari mulai khatib naik mimbar sampai turunnya dari mimbar termasuk isi khutbah Jum’at.

Tuntunan Khutbah Jum’at

Beberapa tuntunan yang harus diperhatikan oleh seorang khatib dan Imam shalat Jum’at dalam menyampaikan ceramah keagamaan kepada orang banyak adalah sebagai berikut:

Baca Juga  Takwa, Bukan Soal Ibadah Ritual Semata

Pertama, pada saat masuk waktu zuhur, khatib naik mimbar dan berdiri seraya mengucapkan salam.

Sebagaimana sabda Nabi SAW:

Dari Anas bin Malik Ra. bahwa Nabi SAW shalat Jumat ketika matahari condong”.
[HR. Al-Bukhari, At-Tirmidzi, Abu Dawud dan Ahmad]

Dari Jabir bin Abdillah bahwa nabi saw mengucapkan salam apabila Naik mimbar
[HR. Ibnu Majah]

Kedua, setelah mengucapkan salam, khatib duduk dan muadzin adzan hingga selesai.

Sebagaimana sabda Nabi SAW:

“Dari as-Saib bin Yazid Ra. berkata: Seruan adzan pertama pada masa Nabi SAW, Abu Bakar dan Umar Ra. dilakukan ketika imam telah duduk di atas mimbar. Maka tatkala masa Utsman Ra. dan orang bertambah banyak, maka beliau menambah adzan ketiga yang dilakukan di Zaura”. [HR. Al-Bukhari, An-Nasai dan Abu Dawud]

Dikatakan seruan adzan ketiga karena adzan pertama ketika imam duduk di atas mimbar. Kemudian iqamah dilakukan ketika hendak shalat Jumat dikatakan sebagai dua seruan, sehingga seruan adzan tambahan Utsman dikatakan sebagai seruan adzan ketiga. Tarjih mengamalkan apa yang dipraktikkan oleh Rasulullah, yaitu adzan satu kali ketika imam duduk di atas mimbar.

Ketiga, khatib mengawali khutbah jum’at dengan mengucapkan tahmid, syahadat, shalawat, wasiat taqwa dan membaca beberapa ayat al-Quran lalu menyampaikan taushiyah.

Sebagaimana rincian dalil dari hadis Nabi SAW sebagai berikut:

Membuka khutbah jum’at dengan tahmid

“Dari Jabir bin Abdullah berkata: Adalah Rasulullah saw dalam khutbahnya memuji Allah dengan puji-pujian yang layak bagi-Nya, kemudian mengatakan: Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkannya, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk; sesungguhnya ucapan paling benar adalah Kitab Allah dan petunjuk paling baik adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah hal-hal yang dibuatbuat (diada-adakan), dan setiap hal yang diada-adakan itu adalah bidah dan setiap bidah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di dalam neraka”. [HR. AtTirmidzi]

Baca Juga  "Layangan Putus": Efek Samping Poligami
Membaca Syahadat

Dari Abu Hurairah Ra. berkata: Rasulullah SAW bersabda: Setiap khutbah yang di dalamnya tidak ada tasyahhud (ucapan syahadat) adalah seperti tangan yang bunting”. [HR. At-Tirmidzi, Abu Dawud dan Ahmad]

Membaca Shalawat

“Dari Aus bin Aus, ia berkata; Nabi SAW bersabda: Sesungguhnya hari Jum’at adalah hari yang terbaik bagi kalian, maka perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari itu, karena sesungguhnya shalawat kalian disampaikan kepadaku. Para sahabat bertanya; wahai Rasulullah, bagaimana shalawat Kami sampai kepadamu, sementara Engkau telah meninggal? Beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah tabaraka wa ta’ala telah mengharamkan jasad para Nabi SAW di atas bumi.” [HR. An-Nasai, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad]

Menyampaikan wasiat Taqwa

“Dari Jabir ibnu Samurah Ra. bahwasanya nabi saw selalu membiasakan memberi pesan (taushiyah) dalam khutbahnya dengan wasiat takwa”. [HR. Muslim]

Membaca beberapa ayat al-Quran lalu menyampaikan taushiyah kepada orang banyak.

Sebagaimana sabda Nabi SAW:

“Dari Jabir bin Samurah berkata: Adalah Nabi SAW melakukan dua khutbah yang di antara dua khutbah tersebut beliau duduk. membaca al-Quran dan memberi pesan (peringatan) kepada orang-orang (jama’ah)”. [HR. Muslim]

Setelah khutbah pertama selesai, khatib duduk sebentar (tidak ada do’a khusus antara dua khutbah) kemudian berdiri kembali untuk menyampaikan khutbah yang kedua.

Sebagaimana sabda Nabi SAW:

Dari Ibnu Umar Ra. berkata: Nabi SAW berkhutbah dengan berdiri, kemudian duduk, lalu berdiri lagi sebagaimana yang kamu lakukan sekarang”. [HR. AlBukhari, Muslim, An-Nasai, At-Tirmidzi, Abu Dawud dan Ahmad]

Khutbah kedua diakhiri dengan dengan doa dan penutup khutbah. Ketika berdoa dituntunkan untuk mengacungkan jari telunjuknya.

“Dari Hushain Ibnu Abdurrahman as-Sulami berkata: aku berada di samping Imarah Ibnu Ruwaibah, sementara Bisyr khutbah di depan kami. Maka tatkala ia berdoa, ia mengangkat kedua tangannya. Lalu Imarah berkata: semoga Allah menjelekkan kedua tangan ini atau kedua tangan kecil ini. Saya melihat Rasulullah SAW pada saat khutbah beliau berdoa begini, dan mengangkat satu jari telunjuk (yang kanan)”. [HARI Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasai, Ahmad dan Ad-Darimi]

Baca Juga  Salat Berjamaah New Normal
Setelah selesai berdoa, khatib turun dari mimbar, dan muadzin mengumandangkan iqomah untuk pelaksanaan shalat Jumat.

Sebagaimana sabda Nabi SAW:

“Dari as-Saib Ibnu Yazid berkata: Bilal adzan ketika Rasulullah SAW sudah duduk di atas mimbar pada hari Jumat; apabila beliau turun [dari mimbar sesudah selesai khutbah], Bilal melakukan iqamah. Demikian pula hal itu dilakukan pada masa Abu Bakar dan Umar Ra”. [HR. An-Nasai dan Ibnu Majah]

Melaksanakan shalat jum’at dua rakaat, sebagaimana sabda Nabi SAW:

Sebagaimana sabda Nabi SAW:

“Dari Umar Ra. berkata: Shalat safar adalah dua rakaat, shalat Idul Adha dua rakaat, shalat Idul Fitri dua rakaat, dan shalat Jum’at dua rakaat sempurna bukan qashar (meringkas salat empat rakaat menjadi dua rakaat) atas lisan Muhammad SAW”. [HR. An-Nasai, Ibnu Majah, dan Ahmad].

Mempersingkat khutbah dan memanjangkan shalat.

“Dari Ammar bin Yasir berkata: Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya panjangnya shalat dan pendeknya khutbah seorang khatib merupakan tanda dari pemahamannya kepada agama. Maka panjangkanlah shalat dan persingkatlah khutbah karena sesungguhnya dalam penjelasan singkat tersebut terdapat daya Tarik”. [HR. Muslim dan Ahmad]

Bacaan surat yang biasa dibaca oleh Nabi saw pada salat Jumat adalah surat al-A’la dan al-Ghasyiyah atau surat Jumu’ah dan al-Munafiqun.

Sebagaimana sabda Nabi SAW:

“Dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw pada hari Jumat dalam shalat subuh
membaca Alif Lam Mim Tanzilu dan Hal Ata ‘ala al-Insani, dan dalam shalat Jumat membaca surat al-Jumu’ah dan surat al-Munafiqun”.
[HR. Muslim, an-Nasai, dan Ahmad].

Sumber: Tuntunan Khutbah Jum’at Muhammadiyah

Related posts
Ibadah

Jadikan Salat sebagai Titik Balik Kehidupan

3 Mins read
Titik Balik Kehidupan – Kebutuhan fundamental kita sebagai manusia adalah kebutuhan biologis, seperti makan, minum, tidur dan kebutuhan sosial: aktualisasi diri, status…
Ibadah

Shalat itu Tiang Agama, Hukuman Berat Bagi yang Meninggalkannya

3 Mins read
Shalat Tiang Agama Tiang Agama – Salah satu ajaran yang sangat penting dalam Islam adalah shalat. Karena pentingnya itu, Rasulullah Saw bersabda:…
Ibadah

Keabsahan Imam Perempuan untuk Jamaah Laki-laki

2 Mins read
Laki-laki dan perempuan adalah setara. Baik setara di hadapan Allah, maupun setara dalam bidang yang lain. Bahkan, perempuan bisa jadi lebih kuat…

Tinggalkan Balasan