“Bumi tidak membutuhkan manusia yang terlihat peduli, tetapi manusia yang benar-benar mau berubah”. Kalimat itu rasanya cocok menggambarkan kondisi sekarang , Ketika gaya hidup ramah lingkungan atau eco-friendly lifestyle semakin populer di tengah masyarakat, terutama di kalangan anak muda.
Gaya Hidup Hijau dan Perubahan Cara Pandang Masyarakat
Membawa tumbler, memakai tote bag, membeli produk ramah linngkungan, sampai mengunggah aktivitas menanam pohon kini sudah menjadi bagian dari tren sehari-hari. Gaya hidup hijau bukan lagi sekadar bentuk kepedulian terhadap lingkungan, tetapi juga sudah menjadi bagian dari gaya hidup modern.
Hari ini, menjaga lingkungan sering kali dianggap keren dan estetik. Tidak sedikit orang yang mulai membawa tumbler atau memakai tote bag karena mengikuti trend media sosial.
Kalimat seperti “biar lebih estetik” mungkin terdengar sederhana, tetapi sebenarnya menunjukan bagaimana cara pandang masyarakat terhadap isu lingkungan mulai berubah. Kepedulian terhadap bumi perlahan tidak hanya dipahami sebagai tanggung jawab, tetapi juga sebagai citra diri dan bagian dari gaya hidup masa kini.
Di satu sisi, fenomena ini tentu membawa dampak positif. Setidaknya, semakin banyak orang mulai sadar bahwa kondisi lingkungan memang sedang tidak baik-baik saja. Isu seperti perubahan iklim, cuaca ekstrem, polusi udara, banjir, dan sampah plastik kini semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Kesadaran untuk mengurangi plastik sekali pakai atau memilih produk yang lebih ramah lingkungan bisa menjadi Langkah awal yang baik untuk menjaga bumi. Namun, di balik tren tersebut, mucul pertanyaan yang cukup menarik: apakah gaya hidup ramah lingkungan benar-benar dilakukan karena peduli terhadap lingkungan, atau hanya karena ingin dianggap peduli oleh orang lain?
Media Sosial dan Lahirnya Simbol Kepedulian Lingkungan
Kalau diperhatikan, media sosial punya pengaruh besar dalam membentuk gaya hidup masyarakat sekarang. Apa yang dianggap keren, modern, dan bernilai sering kali muncul tren digital. Akibatnya, gaya hidup ramah lingkungan perlahan berubah menjadi simbol sosial. Orang yang menjadi eco-friendly lifestyle sering dianggap lebih sadar, lebih modern, bahkan lebih baik dibandingkan mereka yang tidak mengikuti tren tersebut.
Fenomena ini dapat dijelaskan melalui Theory of planned behavior dari Icek Ajzen. Teori ini menjelaskan bahwa perilaku manusia tidak hanya dipengaruhi oleh kesadaran pribadi, tetapi juga oleh lingkungan sosial di sekitarnya. Artinya, seseorang cenderung melakukan sesuatu karena perilaku itu dianggap baik dan diterima oleh masyarakat.
Ketika media sosial mulai membentuk pandangan bahwa membawa tumbler atau memakai tote bag adalah simbol kepedulian lingkungan, banyak orang akhirnya ikut melakukan hal yang sama. Tentu tidak semuanya dilakukan secara pura-pura. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa sebagain orang mungkin melakukannya karena ingin terlihat peduli di mata publik.
Hal seperti ini cukup mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang membeli berbagai produk ecofriendly karena sedang tren. Tumbler dibeli lebih dari satu hanya karena modelnya lucu, tote bag dikoleksi dengan berbagai desain, bahkan ada yang membeli barang ramah lingkungan yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Ironisnya, semangat menjaga lingkungan justru dilakukan dengan cara yang tetap konsumtif.
Padahal, inti dari menjaga lingkungan bukan soal membeli barang banyak dengan label ramah lingkungan, melainkan mengurangi kebiasaan konsumtif itu sendiri. Lingkungan tidak akan benar-benar terbantu ketika masyarakat masih terus membeli barang secara berlebihan hanya demi mengikuti tren hijau.
Ironi Konsumerisme di Balik Tren Eco-Friendly
Pada akhirnya, barang-barang tersebut tetap menghasilkan limbah dan mendorong pola konsumsi yan tidak sehat. Fenomena ini juga berkaitan dengan konsep social approval dalam psikologi, yaitu kebutuhan manusia untuk mendapatkan pengakuan sosial. Pada dasarnya, manusia memang ingin dianggap baik oleh lingkungannya. Ketika kepedulian terhadap lingkungan menjadi sesuatu yang dipuji, banyak orang akhirnya terdorong untuk menunjukkan perilaku yang sama agar mendapat pengakuan dari orang lain.
Akibatnya, media sosial sering dipenuhi simbol-simbol kepedulian lingkungan yang terkadang lebih fokus pada tampilan dibandingkan makna sebenarnya. Tidak sedikit orang yang aktif mengunggah gaya hidup hijau di media sosial, tetapi dalam kehiupan nyata masih menjalani kebiasaan yang justru merusak lingkungan.
Mengurangi sedotan plastik, tetapi tetap boros listrik. Membawa tumbler, tetapi masih sering membeli barang yang tidak dibutuhkan. Hal-hal seperti ini sering terjadi tanpa disadari. Kondisi ini juga bisa dijelaskan melalui teori cognitive dissonance dari Leon Festinger. Teori ini menjelaskan bahwa manusia cenderung mencari pembenaran atas perilaku yang dilakukan agar tetap merasa nyaman secara psikologis.
Misalnya, seseorang masih menjalani gaya hidup konsumtif, tetapi merasa dirinya sudah cukup peduli lingkungan hanya karena memakai sedotan stainless atau membeli produk berlabel eco-friendly.
Dari Pencitraan Menuju Kesadaran Lingkungan yang Nyata
Padahal, menjaga lingkungan sebenarnya dimulai dari kebiasaan sederhana yang sering kali tidak terlihat di media sosial. Mengurangi membeli barang yang tidak diperlukan, memakai barang sampai benar-benar habis, menghemat listrik, membawa wadah makan sendiri, atau membatasi penggunaan plastik justru merupakan bentuk kepedulian yang lebih nyata.
Sayangnya, masyarakat modern sekarang lebih mudah tertarik pada simbol dibandingkan esensinya. Banyak orang ingin terlihat peduli lingkungan, tetapi belum siap mengunggah kebiasaan yang selama ini menjadi penyebab utama kerusakan alam. Budaya konsumtif dan mengikuti tren masih sangat kuat dalam kehidupan sehari-hari. Akibatnya, kepedulian terhadap lingkungan sering kali hanya berhenti pada tampilan luar tanpa perubahan kebiasaan yang benarbenar berarti.
Meski begitu, meningkatnya tren eco-friendly lifestyle tetap memiliki sisi positif yang tidak bisa diabaikan. Setidaknya, isu lingkungan kini semakin banyak dibicarakan dan mulai mendapat perhatian masyarakat luas. Anak muda perlahan mulai sadar bahwa menjaga bumi bukan hanya tugas pemerintah atau aktivis lingkungan, tetapi tanggung jawab semua orang.
Selain itu, tren ini juga membuat banyak orang mulai mengenal kebiasaan hidup yang lebih ramah lingkungan. Walaupun awalnya hanya ikut-ikutan tren, bukan tidak mungkin lama-kelamaan kebiasaan tersebut berubah menjadi kesadaran yang nyata. Dari yang awalnya hanya membawa tumbler karena terlihat keren, seseorang bisa mulai memahami pentingnya mengurangi sampah plastik.
Dari yang awalnya memakai tote bag karena mengikuti tren, perlahan bisa sadar bahwa penggunaan kamtong plastik berlebihan memang berdampak buruk bagi lingkungan. Karena itu, yang perlu diperbaiki sebenarnya bukan tren gaya hidup hijaunya, melainkan cara masyarakat memaknainya. Kepedulian terhadap lingkungan seharusnya tidak berhenti pada simbol atau pencitraan semata. Menjaga bumi membutuhkan konsistensi, bukan sekadar mengikuti apa yang sedang populer di media sosial.
Pada akhirnya, menjaga lingkungan bukan soal siapa yang paling estetik membawa tumbler atau paling sering mengunggah konten peduli bumi. Menjaga lingkungan adalah tentang kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus, bahkan Ketika tidak ada yang melihat. Sebab, lingkungan tidak akan membaik hanya karena banyaknya simbol kepedulian, tetapi karena adanya Tindakan nyata yang terus dilakukan secara konsisten.
(Nashuha)


