back to top
Jumat, Juni 19, 2026

Perbedaan Perayaan Tahun Baru Islam dan Tahun Baru Jawa 2026

Lihat Lainnya

IBTimes.ID – Perbedaan tahun baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah pada 2026 terlihat jelas di kalangan umat Islam Indonesia. Pemerintah dan Muhammadiyah menetapkan perayaan pada Selasa (16/6/2026), sementara Nahdlatul Ulama merayakannya pada Rabu (17/6/2026). Di saat yang hampir bersamaan, tahun baru Jawa 1 Sura 1960 (Bé) juga jatuh pada Rabu.

Perbedaan tahun baru ini bukan hal baru dan berulang kali terjadi. Meski sama-sama berbasis penanggalan Bulan atau kamariah, kalender Islam dan kalender Jawa merupakan dua sistem penanggalan yang berbeda dengan aturan masing-masing.

Kalender Hijriah Indonesia (KHI) 2026 yang disusun Kementerian Agama menetapkan 1 Muharam 1448 H jatuh pada Selasa (16/6/2026). Untuk bulan-bulan di luar Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah, awal bulan hijriah ditentukan lewat metode hisab murni tanpa rukyat atau sidang isbat.

Konjungsi Matahari, Bulan, dan Bumi terjadi pada Senin (15/6/2026) pukul 09.54 WIB. Saat Matahari terbenam, ketinggian hilal di seluruh wilayah Indonesia berkisar antara 0,92 derajat hingga 4,02 derajat, dengan elongasi geosentris mencapai 5,64 hingga 6,98 derajat.

Pemerintah berpedoman pada kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura). Dalam kriteria itu, hilal berpeluang diamati jika tingginya minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Berdasarkan data BMKG, hilal berpeluang diamati di wilayah tengah dan utara Sumatera, mencakup Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, dan sebagian Jambi.

Karena hari dalam penanggalan Islam dimulai selepas maghrib, bukan pukul 00.00, maka 1 Muharam 1448 H secara resmi dimulai sejak Senin (15/6/2026) petang. Itulah mengapa sebagian warga sudah menyambut perayaan tahun baru Islam sejak Senin malam dengan pawai dan karnaval di berbagai daerah.

Ketetapan Muhammadiyah menggunakan kriteria Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang juga menetapkan 1 Muharam jatuh pada Selasa (16/6/2026). Dalam parameter KHGT, awal bulan hijriah dimulai jika sebelum pukul 24.00 UT posisi hilal di mana pun di seluruh dunia telah mencapai tinggi minimal 5 derajat dan elongasi 8 derajat.

Baca Juga:  University Kebangsaan Malaysia Belajar Penanggulangan Bencana pada MDMC

Berdasarkan parameter tersebut, garis tanggal awal Muharam 1448 terbentang di wilayah Asia Tengah ke barat. Negara-negara di kawasan Timur Tengah, Afrika, hingga Eropa pun ikut merayakan 1 Muharam 1448 versi KHGT pada hari yang sama.

Keputusan PBNU tertuang dalam Pengumuman Nomor 146/PB.08/A.II.11.13/13/06/2026 tentang Awal Bulan Muharram 1448 H yang ditandatangani Ketua Lembaga Falakiyah PBNU, KH Sirril Wafa, dan Sekretaris LF PBNU, H Asmu’i Mansur.

Dalam pengumuman tersebut disebutkan bahwa rukyatul hilal telah dilaksanakan pada Senin Pon, 29 Dzulhijjah 1447 H atau bertepatan dengan 15 Juni 2026. Namun, seluruh lokasi pemantauan yang melaporkan hasil rukyat menyatakan tidak berhasil melihat hilal. “Semua lokasi tidak melihat hilal,” demikian bunyi pengumuman tersebut dikutip pada Selasa (16/6/2026).

Perbedaan tahun baru versi NU dengan pemerintah ini berdampak pada panjang bulan Zulhijah yang dibulatkan menjadi 30 hari, sehingga 1 Muharam 1448 H versi NU jatuh pada Rabu (17/6/2026). Sebagian besar warga NU baru menjalankan ibadah sunah Muharam mulai Selasa selepas maghrib.

Perayaan tahun baru Islam bukan sekadar pergantian angka kalender. Penasehat DPP PUI Prof Achmad Tjachja Nugraha mengatakan momen hijrah Rasulullah SAW dari Mekah ke Madinah bukan sekadar perpindahan secara geografis. Akan tetapi, perjalanan peradaban yang sarat nilai pengorbanan, dan optimisme dalam membangun masyarakat yang adil, sejahtera, serta bermartabat.

“Perjalanan hijrah mengajarkan bahwa perubahan besar tidak lahir dari kenyamanan, tetapi dari keberanian menghadapi tantangan dengan iman, ilmu, dan kerja keras,” ucap dia melalui keterangan resmi, Senin (15/6/2026).

Di luar Indonesia, mayoritas negara Muslim merayakan tahun baru Islam pada Selasa. Berdasarkan data Proyek Pengamatan Hilal (ICOP) Pusat Astronomi Internasional yang bermarkas di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, negara-negara yang memulai tahun 1448 H pada Selasa meliputi Malaysia, Singapura, Arab Saudi, Turki, Yaman, Iran, Irak, Mesir, dan Nigeria.

Baca Juga:  Inilah 138 Peserta Esai Menyongsong Tanwir Muhammadiyah 2019

Brunei Darussalam serta sejumlah negara Asia Selatan seperti India dan Bangladesh memulai tahun 1448 H pada Rabu (17/6/2026). Kondisi ini terjadi karena pengamatan hilal di negara-negara tersebut baru berlangsung pada Selasa petang.

Selain perbedaan tahun baru Islam antara ormas keagamaan, masyarakat Jawa juga merayakan Tahun Baru Jawa 1 Sura 1960 (Bé) pada Rabu (17/6/2026). Sama seperti penanggalan Islam, hari dalam penanggalan Jawa dimulai selepas Matahari terbenam. Karena itu, tradisi Lampah Budaya Mubeng Beteng di Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, Kirab Malam 1 Suro Kebo Bule Kyai Slamet di Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Kirab Pusaka Pura Mangkunegaran, dan Lampah Ratri Pura Pakualaman semuanya diselenggarakan pada Selasa (16/6) malam.

Kalender Jawa dibangun pada masa Raja Mataram Sultan Agung Hanyakrakusuma untuk menyatukan berbagai penanggalan yang digunakan masyarakat Jawa saat itu, yaitu kalender Hindu Saka dari kaum kejawen dan kalender Islam dari kaum santri. Kalender ini lahir dari akulturasi tiga tradisi berbeda: Hindu, Islam, dan Jawa. Dikutip dari buku Penanggalan Jawa 120 tahun Kurup Asapon (2006) karya H Djanudji, kalender Jawa mulai digunakan pada 1 Muharam 1043 H atau 8 Juli 1633 M, yang bertepatan dengan tahun 1555 Saka.

Perbedaan tahun baru Islam dan tahun baru Jawa kerap membuat masyarakat bingung dan mencampuradukkan keduanya. Banyak warga menyebut Tahun Baru Islam sebagai “1 Sura” tanpa menyertakan angka tahunnya. Padahal, Tahun Baru Islam adalah 1 Muharam, sedangkan Tahun Baru Jawa adalah 1 Sura.

Perbedaan mendasar keduanya ada pada sistem penentuan awal bulan. Kalender Islam menentukan awal bulan berdasarkan perhitungan kemungkinan terlihatnya hilal, sehingga disebut kalender astronomis. Sementara kalender Jawa menetapkan umur bulan secara matematis, yaitu 30 hari untuk bulan ganjil dan 29 hari untuk bulan genap.

Baca Juga:  Idul Adha Serempak

Tahun Baru Jawa 1 Sura 1960 (Bé) yang mundur sehari dari perayaan tahun baru Islam terjadi karena tahun sebelumnya, yakni tahun 1959 (Dal), merupakan tahun kabisat. Akibatnya, meski bulan Besar (Zulhijah) pada kalender Jawa dan Islam dimulai bersama, kalender Jawa mengakhirinya satu hari lebih lambat.

Sistem penanggalan dalam kalender Jawa juga menggunakan dua siklus hari secara bersamaan: saptawara (siklus tujuh hari) dan pancawara (siklus lima hari atau hari pasaran). Hari pasaran yang terdiri atas Pon, Wage, Kliwon, Legi, dan Pahing menandai hari operasional pasar di berbagai wilayah dan masih digunakan masyarakat hingga kini.

Kurup yang berlaku saat ini adalah Asapon (Alip, Selasa, Pon), digunakan sejak 24 Maret 1936 M hingga 25 Agustus 2052 M. Sebagian masyarakat Jawa masih menggunakan kurup lama, yakni Aboge (Alip, Rebo, Wage), yang berlaku antara 1819 hingga 1936. Masih digunakannya kurup lama itu diduga terjadi karena informasi perubahan kurup tidak tersampaikan secara merata, akibat jarak geografis yang jauh dari keraton, keterbatasan alat komunikasi, dan berkurangnya peran keraton.

Baik kalender Jawa maupun kalender Islam kini menghadapi tantangan serupa: jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Perbedaan tahun baru yang terjadi setiap siklusnya pun kerap luput dari pemahaman masyarakat karena sistem kedua kalender sering disamakan dengan kalender Masehi yang telah menjadi standar kehidupan modern.

Kalender sejatinya adalah produk budaya. Jika tidak dipahami dan tidak digunakan, kepunahannya hanya akan tinggal menunggu waktu.

(Assalimi)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru