Ali Taher, Tokoh Muhammadiyah yang Peduli Terhadap Bangsa - IBTimes.ID
Ar Rasikhuna fil Ilmi

Ali Taher, Tokoh Muhammadiyah yang Peduli Terhadap Bangsa

4 Mins read

Sejatinya, kematian bukan hanya persoalan hilang dari muka bumi. Namun, kematian adalah pulangnya manusia atas sayangnya Tuhan kepada hamba-Nya. Duka mendalam dirasakan oleh bangsa ini, terkhusus Muhammadiyah sendiri.

Kepergian sosok yang bersahaja ke pangkuan Illahi, menjadi tanda atas selesainya tugas keumatan dan khidmatan kepada bangsa dan negara.

Ali Taher Parasong, anggota Legislatif Dapil Banten III dari fraksi PAN, pada Ahad (03/01/2021) mengembuskan napas terakhir di RS Islam Cempaka Putih.

Mengenal Sosok Ali Taher

Ali Taher Parasong lahir pada Februari 1961, merupakan putra dari Lamakera, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, yang memiliki jejak masa kecil cukup kelam. Menjadi cerita indah bagi anak cucunya.

Lahir dari keluarga miskin, bapaknya hanya seorang tukang kayu dan bangunan yang hijrah dari satu pulau ke pulau lain untuk membangun masjid, membuat perahu sembari berdakwah di pelosok pulau-pulau di tanah Lamaholot.

Ia belajar dari kisah masa lalu. Berlayar mengarungi lautan, mendayung sampan menemani bapaknya, Taher Parasong, untuk mencari nafkah. Sehingga kini ia hadir dalam negara sebagai sosok yang tidak pernah takut dan tidak lelah akan perjuangan untuk umat.

Lalu, hijrah ke Jakarta pada usia 11 tahun, meniti pendidikan di Panti Asuhan Aisyiyah Slipi, menjadi penjaga sekolah Muhammdiyah di daerah Jakarta Barat, lalu melanjutkan jenjang menengah di sekolah Muhammadiyah dan pendidikan tinggi di UMJ, UNTAR, dan UNPAD.

Kebersahajaan dan kegigihannya dalam kiprah organisasi di dalam persyarikatan Muhammadiyah membawa ia melanggeng jauh sebagai legislator, tokoh penting di dalam proses membangun bangsa masa kini. Ide dan gagasan yang ia tumpahkan bukan karena kepentingan pribadi atau kelompok, melainkan semata-mata sebagai proses dakwah.

Risalah Dakwah Muhammadiyah

Dalam diskusi saya setiap malam bersama beliau di rumah, ia selalu memberikan wejangan tentang dakwah kultural Muhammadiyah yang harus dipahami oleh semua orang. Setidaknya, ada dua konteks yang menjadi bahan diskusi kami. Poin yang saya petik dari alm. Ali Taher yaitu:

Baca Juga  Dawam Rahardjo, Teguh Membela Pluralisme Meski Banyak Pembenci

Pertama, dakwah agama. Kita pasti mengenang kritik beliau kepada mantan menteri agama, Fachrul Razi, saat rapat kerja bersama komisi VIII DPR RI pada beberapa saat lalu. Ceramah-ceramah besar yang ia sampaikan tidak lepas dari tujuan Muhammadiyah dan Islam itu sendiri.

Dalam kritik yang ia sampaikan tersebut, menunjukkan ada kecintaan lebih terhadap menteri agama sebagai negara dan kepentingan umat sebagai bangsa.

Berbicara tentang agama, Ali Taher sosok yang cengeng. Ia hadir dalam setiap krisis religius dan spiritual pemimpin dalam negara. Seperti yang ia sampaikan dalam setiap rapat kerja, selalu tidak lepas dengan kutipan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai penyejuk. Maka dari itu, tidak salah beliau juga, bagi kami, bahkan bagi kita semua sebagai tokoh umat.

Muhammadiyah tidak berpolitik, apalagi berpolitik praktis. Namun ia mengirimkan kader-kader terbaiknya untuk berdakwah dalam politik. Itulah yang dilakukan oleh Ali Taher dalam kiprah politiknya yang tidak lepas dari dan untuk dakwah.

Pemaknaan Teologi Al-Ma’un

Kedua, kepentingan sosial. “Jangan pernah menyimpan harta di hatimu, tapi simpanlah harta di tanganmu agar engkau menjadi ahli sedekah maka niscaya langit akan mencintaimu “.

Ungkapan di atas menjadi ungkapan yang menghimpun fungsi manusia sosial dalam kehidupan yang diucapkan oleh Ali Taher dalam wawacara dewan.

Ali Taher dalam hal sosial, ia menjadi seorang legislator yang sangat dekat dengan masyarakat, tidak peduli materi dan tenaganya, ia hadir dalam kondisi masyarakat yang sangat menginginkan hadirnya di tengah-tengah mereka. Cukup berpapasan atau sekadar mengobrol pun sudah cukup bagi masyarakat.

Kesederhanaan yang ditunjukkan, memberikan hal positif bagi semua orang. Sebagai seorang yang lahir dari Persyarikatan Muhammadiyah, dakwah sosial menjadi arah utama dalam memberikan hal-hal baik. Jika tidak dengan materi, maka ia berikan dengan ilmu. Pemaknaan teologi Al-Ma’un yang dijadikan landasan sosial Muhammadiyah, ia laksanakan dengan khidmat dan takzim.

Baca Juga  Muhammadiyah dan Vaksin: Keselarasan Agama, Sains, dan Kemanusiaan

Saya teringat dalam materi Stadium General yang ia sampaikan pada Darul Arqam Dasar 2O2O IMM ITB Ahmad Dahlan yang kini menjadi pesan kesan terakhir yang memang menjadi penyadaran fungsi dasar menjadi kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Pesan tersebut berbunyi:

“Muhammadiyah hari tetap sama dengan Muhammadiyah masa lalu, hari ini yang membedakan dakwah Muhammadiyah adalah manusia di dalamnya, maka berdakwahlah dengan cara kalian, tapi jangan lupakan Ideologi, Kittah, dan Langkah Muhammadiyah itu sendiri “.

Kekhawatiran Terhadap Negara

Demikian daripada itu semua, Ali Taher yang saya ketahui, sosok yang tidak bersuudzon, tetapi ia memiliki perasaan tidak enak terhadap proses bernegara hari ini. Kritik penting yang ia sampaikan selalu berdasarkan kondisi dan situasi negara pada hari ini.

Seperti yang kita ketahui, kritik yang dilontarkan kepada mantan menteri agama, Fachrul Razi, dan mantan menteri sosial, Juliari Batubara, yang mana sebagai mitra kerjanya komisi VIII DPR RI.

Negara butuh sosok figur seperti Ali Taher Parasong yang memiliki rasa peduli terhadap negara. Ia mengkritik bukan karena ia benci atau tidak suka, tetapi ia khawatir proses negara ke depannya. Tingginya rasa peduli, ia harus menyampaikan kritik santun tersebut kepada pemimpin negara.

Salah satu yang akan menjadi memori penting yang kita teladani dari kekhawatiran mendiang Ali Taher, ia mengatakan:

“Ada dua yang hilang dari bangsa hari ini, adalah hilangnya kearifan dan keteladan pemimpin, jika pemimpin hilang kearifan dan keteladan maka semangat penyelenggaraan negara juga akan hilang.“

Itulah yang saya petik sebagai kekhawatiran yang ia ungkapkan. Sehingga, ia memiliki misi penting dalam hidupanya, yakni membangun dan memberdayakan sumber daya manusia yang kini terlihat ada ketimpangan.

Baca Juga  Siti Chamamah Soeratno: Srikandi Budaya yang Teguh dan Ulet

Maka dari itu, ia sangat getol dalam mewujudkan nilai-nilai pendidikan, baik itu dasar sampai pendidikan tinggi. Semua generasi harus dibentuk dari jenjang pendidikan. Itulah yang harus diselesaikan oleh negara tentang ketimpangan sosial dan pendidikan yang akan berimbas bagi generasi. Jangan sampai mental dan motivasi tidak dibentuk dalam diri mereka.

Tokoh Bangsa, Tokoh Umat, dan Tokoh Muhammadiyah

Lahir dari keluarga miskin, tetapi ia tidak pernah pupus untuk mencetak generasi dengan ilmu dan materi pribadinya. Ia hadir sebagai sosok yang dikenal sebagai tokoh bangsa, tokoh umat, dan tokoh Muhammadiyah. Ia lahir untuk menuntaskan kemiskinan menjadi kebahagiaan.

Ia tidak ingin generasi dari kampungnya memiliki nasib yang sama seperti yang ia rasakan masa dulu. Maka dari itu, ia membangun akses pendidikan di daerah asalnya untuk dapat merasakan nyamannya belajar dan memiliki mimpi yang tinggi. Muhammadiyah menjadi tempat, wadah untuk ia berkiprah.

Hingga akhir hayatnya, pesan penting yang sering saya dengarkan dari beliau adalah:

“Jangan pernah tinggalkan Ikatan apalagi persyarikatan dalam kondisi apa pun, semenyakitkan apa pun kebenaran dalam berdakwah, itu yang harus terus dilakukan dengan khidmat dan niat yang tulus demi agama.”

-Ali Taher Parasong

Editor: Lely N

Avatar
4 posts

About author
Ketua Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan IMM Karawaci & Wakil Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Manajemen ITB Ahmad Dahlan
Articles
Related posts
Ar Rasikhuna fil Ilmi

Muhammad Asad (2): Telaah Atas Hadith dan Sejarahnya

7 Mins read
Sebelum membahas telaah Asad ke atas hadith dan sejarahnya, telah dibahas latar belakang seorang Muhammad Asad. Asad yang mendalam terhadap hadith sebenarnya…
Ar Rasikhuna fil Ilmi

Sayyid Qutb: Ideologi Radikal itu Jahiliyah Modern!

3 Mins read
Sayyid Qutb dikenal sebagai tokoh modern Islam yang sangat kontroversial dengan berbagai macam pemikirannya yang kritis dan mendalam. Sehingga, banyak orang di…
Ar Rasikhuna fil Ilmi

Muhammad Asad (1): Anugerah Eropa Kepada Islam

5 Mins read
Tulisan ini menyorot fikrah hadith Muhammad Asad (1900-1992) dan kontribusinya dalam pemahaman hadith kontemporer. Ia membincangkan kefahaman asas tentang hadith yang dirumuskan…

Tinggalkan Balasan