Buku Membuat Orang Menjadi “Berbahaya”

 Buku Membuat Orang Menjadi “Berbahaya”

Bung Hatta konon pernah berkata, bahwa dirinya rela dipenjara asal bersama buku-bukunya, karena dia akan merasa bebas jika bersama buku-buku. Begitu pula dengan beberapa tokoh nasional semisal Bung Karno yang tak pernah lepas dari aktivitas membaca, walaupun dia sedang diasingkan. Sama halnya dengan Tan Malaka, yang senantiasa berupaya membuat perpustakaan pribadinya sendiri di manapun dia berada saat melakukan pelarian. Begitu besar intensi hasrat mereka pada buku, dan mereka dianggap sebagai orang-orang berbahaya oleh rezim kolonial saat itu.

Padahal jika dipikir-pikir, Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan Tan Malaka, bukanlah orang-orang yang mempunyai perangai kasar, sebentar-sebentar menggunakan kepalan tangan tuk memukul apatah lagi menggunakan alas sepatu untuk menendang keras yang tak disukainya. Mereka bukanlah orang-orang sebagaimana Hercules dan Achilles dalam mitologi Yunani yang dianggap berbahaya (karena memiliki kekuatan fisik yang luar biasa) sekaligus aib bagi beberapa dewa olympus.

Tapi menilai seseorang berbahaya atau tidak, ternyata tidaklah hanya dilihat melalui kepemilikan senjata, kemampuan fisik ataupun gerombolan preman yang mereka punya. Seperti yang dialami oleh sahabat saya sewaktu kami masih sementara kuliah S1. Kebetulan dalam perjalanan pulangnya dia melewati sweeping gabungan antara kepolisian dan TNI, dia lalu diminta untuk menepi. Bagasi motor minta dibuka, pakaian dan tas pun ikut digeledah. Menurut aparat yang bertugas, mereka sweeping karena lagi maraknya penggunaan senjata tajam. Tapi tanpa sangaja aparat menemukan tiga buah buku, dan ketiganya adalah buku yang “bernuansa kiri”. Sambil memegang ketiga buku tersebut, aparat berkata “buku-bukumu ini lebih berbahaya dibanding senjata tajam”, untung buku-buku tersebut tak disita apalagi memang hanya buku pinjaman.

***

Kata “bahaya” yang disebut oleh aparat tersebut adalah kata yang “sifatnya politis”, dalam artian kata yang ditujukan bagi simbol-simbol, bahan bacaan ataupun orang yang dianggap berpotensi mendelegitimasi kekuasaan tertentu. Maka Munir, orang yang bertubuh kecil dengan kumis tipis, akhirnya meninggal setelah meneguk racun di pesawat. Dia dianggap layak untuk mati karena berpotensi membuka aib sekaligus mendelegitimasi rezim saat itu. Begitu pula dengan buku “Satanic Verses” (1988) yang ditulis oleh Salman Rushdie, hanya karena dianggap tak sejalan dengan rumusan iman yang diketuk palu oleh rezim.

Mengapa buku bisa membuat seseorang menjadi “berbahaya”?, mungkin karena buku bukanlah sekadar kertas atau halaman-halaman, tapi semacam ruang mental bagi manusia untuk mencari kemungkinan-kemungkinan, sehingga ada betulnya jika Max Weber menyebut intelektual (yang begitu akrab dengan buku) digambarkannya sebagai “orang yang senang bermain-main dengan pikirannya”.

Yah, buku adalah “ruang” bagi manusia untuk “bermain-main dengan pikirannya”. Bermain-main berarti menulusuri segala kemungkinan, bereksperimentasi dengan berbagai argumentasi, mencoba berapa cara. Bermain-main adalah hal yang erat dengan kreativitas.

Ini bisa kita umpamakan dengan penggambaran Sir Herbert Read tentang Leonardo Da Vinci dalam “The Renaissance” (1873), lalu diulas ulang dengan cukup gurih oleh Budi Darma dalam “Solilokui; Kumpulan Esei Sastra” (1984). Leonardo Da Vinci adalah seorang pelukis, tapi hampir dalam perjalanan hidupnya dia tidak pernah bersikap sebagai pelukis. “Menjelang dewasa, dia suka mencampur-campur cat tanpa tujuan untuk melukis, kemudian dia suka memperhatikan gejala-gejala alam. Pada waktu itu belum ada satu orang pun yang mempunyai pikiran sejauh dia“ tulis Budi Darma.

Yang mau saya ingin katakan, buku membuat orang-orang bisa menjadi “berbahaya”, karena buku adalah ruang mental di mana setiap orang berkemungkinan menjadi da Vinci menurut versinya masing-masing. Buku bisa membuat yang membacanya, memiliki semacam “pandangan tajam” yang bisa menembus gejala-gejala permukaan.

***

Bagi orang-orang seperti Soekarno dan Tan Malaka, kolonisasi Belanda maupun Jepang saat itu, bukanlah sesuatu yang “at-given”, bukanlah fakta sejarah yang terberi begitu saja, tetapi sesuatu yang bisa diubah dengan pikiran, siasat, dan kehendak tertentu.

Sebuah otoritas agama yang totaliter menginginkan semua orang yang ditemuinya memiliki “warna cat beragama” yang seragam sebagaimana yang ditetapkan oleh ortodoksi. Jika kekuasaan politik tertentu, senantiasa (dalam kadar besar maupun kecil) menginginkan agar warganya memiliki “warna cat persepsi politik” yang seragam. Maka membaca buku, memungkinkan pikiran seseorang bermain-main di antara “warna cat keagamaan” yang beragam rupa, dan tentunya memungkinkan orang bisa “mencampur cat persepsi kebangsaan/politik” sesuai dengan kehendak dan waktu luangnya. Kalau dalam istilah Paul Riceour dalam Temps Recit, mengatakan bahwa teks pada buku (terutama teks sastra), tidak hanya menggambarkan dunia, tetapi juga sebuah “proposition du monde” atau “tawaran tentang dunia”

Tapi sekali lagi term “berbahaya” dalam konteks ini adalah term yang politis, terkadang dalam mengartikannya bergantung selera yang memegang pucuk kuasa. Setelah Belanda dan Jepang hengkang dari nusantara, Soekarno saat menjadi presiden dalam suatu waktu melarang risalah seperjuangannya sendiri, yakni risalah Bung Hatta yang berjudul “Demokrasi Kita”. Begitu pula dengan semua novel Takdir Alisjahbana, Mochtar Lubis, beserta semua puisi para penulis yang menandatangani “Manikebu”. Lalu Soekarno tumbang, Soeharto sebagai pengganti dan melakukan hal yang sama, semua buku kiri terutama yang ditulis Pramoedya Ananta Toer hilang dari peredaran. Dan ini masih terus berlanjut, masih saja ada orang-orang atas nama agama dan keamanan yang merazia buku-buku yang dianggap berbahaya.

Tapi pikiran bukanlah perihal gampang tuk dikendalikan, apalagi jika ada niatan untuk memusnahkan gagasan-gagasan yang dibudidayakannya. Sebagaimana anak-anak di perkotaan yang digilas habis ruang bermainnya karena serbuan investasi, lalu mereka berusaha mengambil alih jalan-jalan raya, torotoar, bahkan halaman depan kantor dinas sebagai ruangan bermain sepak bola dan lompat karet. Begitu pula dengan pikiran atau gagasan, senantiasa punya jalan untuk merealisasikan dan memperkaya dirinya.

Selamat Hari Buku

Editor: Yahya FR

IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis dan editor yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
Mandiri 137-00-5556665-3
A.n Litera Cahaya Bangsa

Asratillah

Asratillah

Koordinator Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) Sulawesi Selatan

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lost your password? Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.