Bung Karno (2): Diancam Tembak Mati Ingat Allah

 Bung Karno (2): Diancam Tembak Mati Ingat Allah
Ilustrasi: ibtimes.id            

Quran, saudara-saudara! Jikalau saya berdiri di hadapan saudara-saudara pada saat sekarang ini, ingatlah saya kepada satu peristiwa yang saya alami sendiri. Saudara-saudara mengetahui bahwa pada tanggal 19 Desember 1948 Jogjakarta diserbu oleh tantara Belanda. Sesudah tantara Belanda itu menyerbu kota Jogjakarta, saya dengan beberapa kawan ditangkap oleh Belanda itu.

Kemudian pada tanggal 22 Desember 1948, saya dibawa dengan kapal udara B-25 ke Medan. Dari Medan dibawa ke Berastagi. Di Berastagi ditaruh di suatu tempat di satu rumah. Dan rumah itu sudah dikurung dengan kawat berduri, dijaga oleh serdadu-serdadu Belanda sekelilingnya. Serdadu-serdadu Belanda itu di bawah pemimpin seorang letnan, letnan Belanda dari K.L.

Di dalam rumah itu, saya ditaruh dengan beberapa kawan dan di sana ada dua orang bangsa kita, suami-istri, laki dan perempuan. Yang laki namanya kebetulan seperti nama saya, Karno. Istrinya namanya Musiyah. Jadi, sepasang suami istri Karno dan Musiyah ditugaskan memasakkan makan-makanan bagi yang ditawan di dalam rumah di Berastagi itu. Karno dan Musiyah adalah orang-orang yang datangnya atau asalnya dari Pacitan. Jadi barangkali dulu datang di daerah Medan sebagai kuli kontrak.

Sesudah saya tiga hari di dalam rumah itu, pada suatu pagi, saudara-saudara, kira-kira jam sepuluh pagi, Musiyah dan Karno dua-duanya datang kepada saya sambil menangis tersedu-sedu. Saya bertanya kepada Karno dan Musiyah: “…Karno dan Musiyah, kenapa engkau berdua menangis tersedu-sedu sambil memeluk lututku?”

“Ya, bapak,” katanya Musiyah ini, “…tadi di dapur saya sedang menggoreng srundeng…”

Saudara tahu apa itu srundeng? (ditujukan kepada hadirin).

Tuan letnan datang di dapur itu menanya kepada Musiyah, “Musiyah, sedang apa engkau?”

“Saya sedang membikin srundeng, tuan letnan…”

“Buat siapa kau membikin srundeng itu?”

“Buat Bapak Sukarno..”

“Heh, buat apa engkau membikin srundeng bagi Sukarno! Apakah engkau tidak tahu bahwa Sukarno besok pagi akan ditembak mati! Kami menunggu perintah dari Medan, yang kami sudah tahu perintah itu apa. Besok pagi Sukarno akan kami tembak mati!”

Nah, sesudah mendengar perkataan tuan letnan ini, Musiyah dan Karno keluar dari dapur, lari kepada saya dengan menangis tersedu-sedu.

Saudara-saudara bisa membayangkan bagaimana keadaan pada saat itu. Dikatakan oleh Musiyah dan Karno, besok pagi aku akan ditembak mati.

Aku ingat pada Tuhan:

“Ya Allah, Ya Rabbi, kalau memang itu telah dikehendaki oleh Tuhan, yah apa boleh buat.”

Aku ingat pada waktu itu akan segala apa yang aku baca tentang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bagaimana Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah mencucurkan air mata, menangis ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala karena ada terjadi barang suatu yang beliau anggap bahwa beliau belum bisa, belum menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya.

Saya mengambil air wudlhu pada waktu itu, saudara-saudara, dan sembahyang. Sesudah sembahyang… aku terharu, … maaf aku menurunkan sebentar, aku terharu, hati ini….

Sesudah aku sembahyang, aku mengambil kitab Quran. Quran yang aku bawa dari Jogjakarta. Quran yang sebagai dikatakan oleh Mulyadi Joyomartono tadi sebagian sebelah Bahasa Arab, sebagian sebelahnya salinan dalam bahasa asing.

Aku punya jiwa dan aku memohon petunjuk…. maaf saya terharu saudara-saudara…. Mohon petunjuk daripada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan permohonan: “Ya Allah, berilah petunjuk kepada aku bilamana aku membuka kitab ini.” Apa yang Engkau katakan pada kaca sebelah kiri. Kalimat sebelah kiri yang tertulis. Saya ulangi, aku mohon kepada Tuhan supaya memberi petunjuk kepadaku. Kalau nanti Quran ini aku buka, berilah petunjuk kepada aku, di pagina kaca sebelah kiri, kalimat ditulis, paling atas dari pada pagina kiri itu.

Kemudian, sesudah itu aku menenangkan aku punya pikiran dan hati, aku buka Quran itu dan aku baca, yang Salinan di dalam bahasa asing berbunyi kira-kira: “….waarom sult gij den menn geloven waar ik kenmer ben van alle dingen..” Artinya: “kenapa engkau percaya omongan manusia, Aku inilah Yang Maha Mengetahui.”

Waarom sult gij den menn geloven waar ik kenmer ben van alle dingen…”  

“Kenapa engkau percaya kepada manusia, Akulah Yang Mengetahui.” Allahu Akbar!

***

Sesudah aku membaca kalimat itu, takut lagi jiwaku, aku tidak gembira lagi, tidak kesetir lagi. Di dalam hatiku, ya, mangkir memang berita letnan Belanda ini berkata, kepada Musiyah dan Karno, bahwa Sukarno besok pagi akan ditembak mati. Tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam kitab-Nya Al-Quran berkata, “buat apa kau percaya kepada manusia Tuhanlah Yang Maha Mengetahui!”

Saudara-saudara! Saudara melihat bahwa keesokan harinya saya tidak ditembak mati dan sampai sekarang, pada malam ini, bukan tahun 1948 tetapi tahun 1961, Alhamdulillah Sukarno masih hidup. Sukarno malahan berdiri di hadapan saudara-saudara.

Kejadian ini saudara-saudara, menambah tebalnya kepercayaan saya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kepada Quran.

Dulu, sebelum kejadian itu, pernah saya katakan bahwa, ya memang di dalam hidup saya ini kalua boleh saya ceritakan, tampak satu evolusi mengenai kepercayaan kepada Tuhan dan agama. Tatkala saya masih pemuda, saya tidak percaya kepada Allah dan agama, kemudian saya menjadi pemimpin, kemudian di dalam bui, inilah salah satu hikmah, dipenjarakan, saudara-saudara. Di dalam penjara saya mempelajari agama. Keluar dari penjara saya menjadi manusia yang percaya mati-matian kepada Tuhan dan Muhammad. Kejadian di Berastagi mempertebal kepercayaanku kepada Tuhan dan Muhammad dan Quran ini.

Sumber: “Al-Quran Pembentuk Manusia Baru: Amanah Paduka yang Mulia Presiden Soekarno di Istana Negara pada tanggal 17 Ramadhan 1380 H (6 Maret 1961),” penerbitan oleh Jawatan Penerangan Agama Departemen Agama 1961, ditulis dengan Bahasa Arab Melayu.

Editor: Nabhan Mudrik Alyaum


IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis dan editor yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
Mandiri 137-00-5556665-3
A.n Litera Cahaya Bangsa

Avatar

Mu'arif

Pengkaji sejarah Muhammadiyah-Aisyiyah, Anggota Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah.

Related post

2 Comments

    Avatar
  • I simply want to mention I am all new to weblog and honestly loved this blog. Very likely I’m want to bookmark your blog post . You amazingly come with great well written articles. Bless you for revealing your webpage.

  • Avatar
  • Hey, you?re the goto expert. Thanks for haingng out here.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lost your password? Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.