Feature

Covid-19 dan Kematian

3 Mins read

Membaca judul tulisan ini, pembaca mungkin akan berpikir, bahwa Covid-19 yang diderita oleh seseorang, bisa mengantarkanya pada kematian. Bisa juga berkesimpulan, bahwa salah satu musabab kematian terbesar dalam dua–tiga tahun terakhir ini, adalah Covid-19. Meski ada ahli kesehatan yang berpandangan, bahwa Covid-19 bukanlah musabab tunggal. Penyakit bawaan alias komorbid lah yang lebih dominan sebagai penyebab kematian. Ada beragam pendapat dalam perkara itu. Lumrah.

Meski mereka bukan dokter, namun ada juga yang berpandangan beda. Mereka yakin sekali bahwa Covid-19, juga berbagai penyakit lain, hanyalah sebagai pengantar jalan seseorang menuju kematian. Karena yang paling pasti, adalah kematian.

Saya mengamini pendapat terakhir ini. Meskipun demikian, saya tidak lantas bersikap abai, pasrah, tidak melakukan upaya apapun ketika saya menderita Covid-19 seperti sekarang ini.

Menyikapi Covid-19

Sejak wabah ini mulai menyebar pada akhir 2019, yakin, bahwa suatu saat, tubuh saya juga akan kemasukan virus ini. Untuk itu, saya selalu berjaga, agar tubuh dan mental saya siap saat harus menerima virus ini tiba.

Saya rajin menggunakan masker, mencuci tangan dst, bukan semata-mata untuk menolak kedatangannya. Tetapi, itu sebagai upaya mencegah, menghindar dulu, karena tubuh dan mental merasa belum siap. Belajar dari berbagai bacaan dan pengalaman beberapa teman, adalah upaya lain yang selalu saya lakukan. Mendengarkan cerita dari mereka yang sudah terlebih dahulu bergumul dengan virus, cukup memberikan pelajaran berharga.

Dua minggu lalu, saya rapat dengan 6 orang teman sejawat dalam satu ruangan. Esoknya, 2 orang teman langsung drop dan hasilnya positif bergejala. Sesuai posedur kantor, saya pun harus test PCR. Hasilnya negatif.

“Wah, Allah masih belum berkehendak melemahkan tubuh saya akibat virus ini”. Bisik batinku sambil terus bersyukur. Allah pasti tau, bahwa saya hendak mengurus berbagai urusan terkait salat Ied, penyembelihan hewan-hewan kurban dst.

Baca Juga  Tuhan tidak Pemarah, Memakmurkan Masjid Bisa dari Rumah

Berawal dari Flu dan Batuk

Usai perayaan Ied Adha, cuaca sekitar Ciputat kurang bersahabat. Langit selalu diselimuti awan putih. Keindahan biru langit itu tertutup oleh awan putih butek. Ada fenomena inversi. “Itu pertanda bahwa kondisi udara sedang tidak baik dan sehat. Polusi udara dari bumi tertahan oleh mendung, hingga tidak bisa beranjak pergi”, kata istriku yang cukup ngerti sedikit soal isu perubahan iklim.

Bulan Juli dipercaya sebagai musim kemarau, ternyata setiap hari malah hujan lebat. Anomali yang luar biasa. Sebuah pertanda, bahwa manusia tidak mampu mengatur alam raya sesuka hatinya. Jika merusaknya sih bisa.  

Saya memang kehujanan selama dua hari berturut-turut, hingga mengalami batuk dan flu. Seperti biasa, minum obat flu, banyak minum air putih, jus buah, dan minuman rempah hangat setiap menjelang tidur. Gejala dan efeknya mereda dan bisa tidur lelap.

Minggu pagi, aku dan keluarga jogging menikmati car free day di Senayan. Kami jalan kaki dari Hotel Atlet ke Duku Atas PP. Lumayan, kurang lebih 10.000 langkah. Badanku terasa hangat, berkeringat, dan merasa lebih bugar.

Usai jogging, Soto Gading Kalibata adalah pilihan sarapan paling pas. Soto langganan sejak masa pacaran. Dulu, ia hanya gerobak kecil di lingkungan stasiun. Sekarang membesar hingga harus bergeser sedikit ke pinggir jalan besar arah kantor BIN. Sate kerang, perkedel dan tempe gorengnya, persis seperti kita sedang menikmati soto aslinya di Solo atau Semarang.

Siang hari, saya harus melakukan tes antigen karena nanti sore hendak ke Yogyakarta. Hari itu, sungguh membahagiakan, karena diundang menghadiri hajatan CRCS UGM. Sebuah perhelatan yang sudah lama saya mimpikan untuk bisa hadir. Kebetulan saya diminta menjadi salah satu fasilitator pada hari ke 3. Sungguh menyenangkan.

Baca Juga  Kurikulum Fleksibel: Jalan Keluar Pembelajaran di Masa COVID-19

Sampai di rumah, informasi dari Bumame tiba melalui pesan WhatsApp. Hasil test antigen saya ternyata positif, “Wah, tiba juga saatnya harus menerima takdir ini”, bisik batinku.

Saya langsung memberitahu kawan-kawan kantor, lingkungan pengurus RW, Puskesmas, jemaah masjid dan beberapa kawan yang kemaren berinteraksi dekat. Saya meminta maaf, jika ternyata saya menulari mereka. Istri dan anak menyiapkan ruang isolasi. Sekarang saya terus berusaha beradaptasi.

Seperti Juga Kematian

Selama ini, saya memang berusaha selalu siaga dan terus berjaga, kapan Covid-19 itu akan bersarang di dalam tubuh saya. Ketika ia bener-benar tiba, saya sudah bisa ikhlas menerimanya dengan hati lapang. Tidak akan ada penyesalan, atau menyalah-nyalahkan orang lain. Semua harus diterima dengan lapang dada. Saya pun berusaha ikhlas karena gagal ikut konferensi di UGM Yogyakarta. Biasa saja, suatu saat, pasti ada penggantinya.

Saya terus berdoa, semoga Allah menjaga keteguhan sikap batin, pikiran, mental, dan tubuh saya dalam menghadapi Covid-19. Semoga sikap batin dan pikiran saya itu terus ajeg, sama seperti menghadapi kematian. Saya haqqul yakin, bahwa kematian pasti tiba. Tanpa atau ada musabab. Sakit atau tidak ada sakit, takdir itu pasti akan datang menjemput sukma untuk memisahkan dari raga. Itu bisa terjadi kapan saja.

Sungguh bahagianya ketika Allah selalu membuat saya terjaga, hingga siap menerimanya. Sembah dan sujudku kepada-Mu ya Allah. Amiiin.  

Editor: Yahya FR

Print Friendly, PDF & Email
3 posts

About author
Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Legoso – Ciputat Timur Program Officer The Asia Foundation
Articles
Related posts
Feature

Kisah Seorang Buruh Setrika yang Ketiban Rezeki Saat Muktamar Muhammadiyah ke-48

3 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Gelaran Muktamar Muhammadiyah ke-48 memang sudah usai. Musyawarah tertinggi di Muhammadiyah tersebut, sudah ditutup oleh Wakil Presiden…
Feature

Ustadz Muzawir, Menjalani Profesi Guru Seperti Bermain Musik

2 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Senyumnya selalu menyungging ketika bertemu murid-murid yang diajarnya. Ia suka menyapa dan selalu ramah dengan siapapun, termasuk…
Feature

Irfan Amalee, Kiai Milenial dan Pendidik Inspiratif

4 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Pagi amat dingin di Pegunungan Sumedang Utara, 50 kilometer dari Kota Bandung. Gerimis turun begitu tipis. Kanan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *