Farid Fathoni: Tegaskan Peran Kebangsaan, Kukuhkan Aksi Kepeloporan - IBTimes.ID
Inspiring

Farid Fathoni: Tegaskan Peran Kebangsaan, Kukuhkan Aksi Kepeloporan

4 Mins read

Sabtu 6 Syawal 1443 Hijriyah sedang beranjak siang, usai mengantarkan bapak kami periksa ke Dokter Urologi, saya tercenung membaca kabar wafatnya Mas Farid Fathoni.

Sesaat kemudian azan Zuhur berkumandang. Panggilan azan menyadarkan saya bahwa kapan saja kematian akan menghampiri kita. Hanya menunggu giliran saja.

Farid Fathoni: Kader Autentik IMM

Sosok Farid Fathoni, bagi saya, adalah sosok Kader autentik IMM. Farid Fathoni tidak saja merepresentasikan kemurnian ide dan aksi sebuah gerakan IMM. Namun, ia juga mencerminkan harapan besar akan “keaslian” visi gerakan IMM, yang selalu menekankan gerakannya atas dasar “amal ilmiyah, ilmu amaliyah”.

Sehingga, menjadi kebanggaan besar bagi IMM adalah ciri khasnya untuk selalu tampil “anggun moral, unggul intelektual”.

Adalah Allahuyarham Muhammad Ilham Thowil yang pertama kali memperkenalkan saya dengan sosok Farid Fathoni AF, walaupun secara tidak langsung, melalui Buku “IMM, Kelahiran yang Dipersoalkan”. Saat itu Kak Ilham baru beberapa saat menjadi mahasiswa IAIN Surabaya, dan langsung menjadi aktivis IMM. Sementara saya sendiri masih menjadi aktivis IPM Sekolah Kader SMA 2 Lamongan.

Sehingga, saat mulai kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Jember, saya langsung menyatakan aktif di IMM. Betapapun saat itu banyak senior kakak kelas yang mencoba merayu dan mengajak saya untuk aktif di HMI, namun sedikitpun saya tidak tertarik. Saya sudah jatuh hati kepada IMM, bahkan sejak saya masih pelajar.

Inilah asbab perjumpaan saya berikutnya dengan Mas Farid menjadi begitu intim. Terlebih sosok Mas Farid adalah role model seorang penggerak kader. Farid Fathoni sangat total dalam meluangkan dan memberikan waktu terbaik untuk melayani kader-kadernya.

Perjumpaan dengan Farid Fathoni

Perjumpaan langsung dengan Mas Farid terjadi saat saya mengikuti Darul Arqam Madya DPD IMM Jawa Timur, tahun 1994 di Pacet Mojokerto. Hingga larut malam, Mas Farid Fathoni membakar semangat kami untuk meneguhkan identitas IMM di kancah nasional gerakan Mahasiswa.

Baca Juga  Jahm bin Shafwan: Teolog Jabariyah yang Fenomenal

Saat itu, saya melihat Mas Farid ditemani sang istri tercinta. Mas Farid tidak segan mengemudikan sendiri ambulan sebuah puskesmas yang menjadi mobil dinas istrinya.

Hingga sepuluh tahun kemudian, dalam beberapa kali kesempatan hadir rapat konsolidasi pemenangan Pilpres 2004 bersama Allahuyarham Pak Yahya Abdul Muhaimin, saya melihat Mas Farid hampir selalu ditemani oleh Sang Istri tercinta. Dan ini yang istimewa, Mas Farid terkadang masih memilih mengemudikan sendiri sebuah ambulan.

Terlepas dari kesederhanaannya, rupanya itulah cara Mas Farid untuk dapat membagi waktu di tengah padatnya mobilitas kesibukan beliau sehari-hari. Ambulan menjadi pilihan jitu untuk dapat memaksimalkan kecepatan dalam memberikan pelayanan ke masyarakat, tidak hanya sebatas urusan pelayananan Kesehatan. Namun, juga pelayanan pendidikan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat mustadh’afin.

Di halaman belakang rumahnya yang sangat luas, Mas Farid dan Istri membuat Taman Kanak-kanak & Taman Pendidikan Al-Qur’an yang diperuntukkan gratis untuk melayani masyarakat sekitar.

Rumahnya di Jombang tidak hanya kerap menjadi jujugan para aktivis. Beberapa Tokoh Nasional seperti Adi Sasono, dan ZA. Maulani, juga pernah singgah di rumah almarhum.

Tidak ketinggalan Piet Hizbullah Khaidir dan Endy Sjaiful Alim (Ketum dan Sekjen DPP IMM 2001-2003) usai sebuah agenda di Malang meminta kepada saya untuk menemani ke rumah Mas Farid di Jombang.

Saya-pun segera meminjam Suzuki Katana UMM, mobil dinas Mas Fauzan, kini Rektor UMM, yang saat itu masih menjabat sebagai Kepala BAU, untuk mengantarkan Piet dan Endy berjumpa Mas Farid Fathoni.

Siang hari kami memasuki rumah kediaman Mas Farid yang luas dan asri, membuat kami sangat betah berlama-lama bertamu. Terlebih kami mendapatkan sangat banyak sudut pandang sejarah gerakan IMM dari sumber penulisnya langsung.

Baca Juga  Keberanian, Kebebasan, dan Tanggung Jawab: Etika Santri Pondok Shabran
***

Mas Farid-pun meminta kami menginap saja di rumahnya. Hanya saja Piet sudah terlanjur memesan tiket kereta malam dari stasiun Pasar Turi untuk kembali ke Jakarta. Sehingga, kami-pun terpaksa mengakhiri diskusi gayeng bersama Mas Farid.

Sebagai tindak lanjut diskusi tersebut, saya kemudian ditunjuk oleh DPP IMM untuk segera mempersiapkan sebuah Lokakarya Nasional yang bertitel “Rancang Bangun Gerakan IMM, visi 2020”.

Alhamdulillah, acara Lokakarya tersebut dilaksanakan di Gedung Diklat Depdagri di Kota Malang. Kami diizinkan memakai Gedung tersebut secara gratis, atas bantuan Pak Syahrazad Masdar, Kepala Diklat Depdagri Jawa Timur saat itu.

Pak Syahrazad Masdar sempat ditunjuk menjadi Pejabat Bupati Jember. Dan kemudian menjadi Bupati terpilih di Kabupaten Lumajang.

Intensitas Pertemuan saat Musyda IMM Jatim 2004

Intensitas perjumpaan dengan Mas Farid Fathoni terjadi saat kami sedang mempersiapkan pelaksanaan Musyawarah Daerah IMM Jawa Timur pada akhir bulan Februari 2004. Acara Musyda IMM Jatim XIV tersebut dilaksanakan di Kota Jombang. Mas Farid sangat antusias membantu hajatan kami tersebut.

Mas Farid sangat bergembira dengan kehadiran kader-kadernya yang malah banyak ngriwuk’i (merepotkan). Mas Farid bahkan mengundang khusus saya dan kawan-kawan DPD IMM Jatim untuk menginap di rumahnya, agar bisa berdiskusi lebih dalam hingga larut malam.

Tema besar yang kami angkat saat Musyda adalah “Mempertegas Peran Kesejarahan Memperkukuh Aksi Kepeloporan”. Musyda IMM Jatim XIV ini dilaksanakan dalam suasana milad IMM yang ke-40 tahun. Usia sebuah gerakan yang selayaknya sudah semakin mapan.

Hadir dalam Musyda tersebut Prof. Yahya A. Muhaimin sebagai Ketua Kornas Fokal IMM. Pak Yahya yang mantan Mendiknas Kabinet Gus Dur, di tengah kesibukan konsolidasi nasional pemenangan MAR for President, merasa sangat penting bisa hadir ke Jombang.

Baca Juga  Yang Tetap dan Yang Berubah dari Buya Syafii

Sejak pertama saya berdiskusi dengan Mas Farid, saya merasakan ada chemistry yang begitu erat dengan almarhum. Mungkin juga karena dilatari oleh kesamaan background keluarga besarnya di Brondong-Lamongan dan Tuban, yang secara pemikiran politik khas Masyumi. Di mana itu semua nyambung dengan aktivitas politik Abah saya di Lamongan sejak era orde baru berkuasa.

Bagian terpenting dari legacy seorang Farid Fathoni adalah menemukan frasa “IMM, Kelahiran yang Dipersoalkan”, yang kemudian menjadi buku wajib bagi setiap kader IMM.

Ada sebuah Amanah dari Pak Djazman Al-Kindi yang belum tertulis semuanya dalam buku “Kelahiran yang Dipersoalkan” tersebut. Saya mendengar dari Mas Abduh, aktivis IMM Surabaya yang kini aktif sebagai PDM Kab. Jombang, bahwa edisi cetak baru dan revisi buku Kelahiran yang Dipersoalkan sudah hampir selesai. Semoga bisa segera naik cetak.

Editor: Yahya FR

Print Friendly, PDF & Email
Avatar
10 posts

About author
Santri Pengelana kelahiran Lamongan ini telah lama menyepikan dirinya dari dunia jurnalisme. Ia yang merupakan Kandidat Doktor Program Studi Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah & Perdesaan Sekolah Pascasarjana IPB ini, meniti karir sebagai Konsultan berbagai Project Bidang Pertanian, Perikanan dan Kelautan, serta Program-program Pengembangan Kawasan Perdesaan dan Kawasan Perbatasan Republik Indonesia. Ia mengasah jiwa leadershipnya sejak IPM Sekolah Kader Lamongan. Pernah menjabat Ketua Umum DPD IMM Jawa Timur 2002-2004. Dan menjadi Wakil Sekretaris Bidang Kebijakan Publik LHKP PP Muhammadiyah 2010-2015. Kini, ia aktif sebagai Penasehat PRM Legoso-Ciputat.
Articles
Related posts
Inspiring

Hasnan Bachtiar; Intelektual Muhammadiyah, Kuasai 7 Bahasa, Baca Buku 12 Jam Per Hari

4 Mins read
Ia adalah orang Banyuwangi, Jawa Timur yang berhasil menguasai tujuh bahasa. Salah duanya adalah Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa. Yang lain, Bahasa…
Inspiring

Perjuangan Gus Dur Mewujudkan Kesetaraan Gender

3 Mins read
Dalam setiap tahunnya, beberapa sebagian masyarakat Indonesia selalu antusias dalam merayakan hari Kartini yang jatuh setiap tanggal 21 April. Yang merayakannya pun…
Inspiring

Meneladani Annemarie Schimmel: Profesor Perempuan dan Pecinta Sufi

4 Mins read
7 April kemarin adalah tepat 100 tahun usia Annemarie Schimmel, seandainya ia masih hidup. Perempuan kelahiran Erfurt, Jerman pada 1922 ini adalah…

Tinggalkan Balasan