Hoax pada Era Sekarang dan Era Rasulullah SAW - IBTimes.ID
Perspektif

Hoax pada Era Sekarang dan Era Rasulullah SAW

4 Mins read

Pada saat ini, peran media sosial dibutuhkan oleh pemerintah. Di antaranya membantu penyelesaian pengaduan atau laporan pelayanan publik, membantu peningkatan partisipasi masyarakat dalam pengawasan pelayanan publik, dan mempercepat penyelesaian laporan pelayanan publik.

Media sosial mempunyai peranan strategis. Selain sebagai transformasi informasi, media sosial juga dapat menjadi sarana komunikasi antar sesama masyarakat maupun antara masyarakat dengan pemerintah dalam menyampaikan keluhan maupun menyampaikan berbagai aspirasi.

Tujuan Media yang Kerap Bertolak Belakang

Banyaknya media online dan media sosial yang menawarkan berbagai akses kemudahan, akan lebih efektif dan bermanfaat bila dijadikan sebagai wadah dalam memberikan masukan, kritik maupun saran dalam pembangunan. Di sisi lain, perlu adanya dorongan kepada semua lapisan masyarakat agar memiliki etika bagaimana memanfaatkan media sosial.

Menurut model Mc Quail tentang media, bahwa media sangat dipengaruhi oleh tujuan utama media itu sendiri. Tujuan utama media yang telah teridentifikasi, yakni memberikan profit kepada para pemodal, baik pemilik maupun pemegang saham, tujuan ideal yang bersifat kultural sosial maupun politik, memaksimalkan dan memuaskan audiens, serta memaksimalkan pemasukan iklan.

Dari tujuan media tersebut, sering bertolak belakang dan jarang sekali terjadi keselarasan penuh di antara keempatnya. Justru lebih mungkin pembelokan informasi yang sangat dipengaruhi oleh ideologi kepentingan yang mengarah pada manipulasi data informasi yang dijadikan media sebagi mainan oleh kapital (kapitalisasi).

Terlebih lagi, informasi hoax ini muncul bersamaan dengan isu-isu politik maupun pemilu di Indonesia. Informasi hoax dapat mengancam popularitas seseorang yang akan maju di kancah perpolitikan Indonesia. Gara-gara hoax, namanya dapat tercemar di masyarakat.

Hoax di Era Industri 4.0 ke Revolusi Industri 5.0

Era Industri 4.0 menuju Revolusi Industri 5.0, membawa masyarakat pada nuansa bebas menyampaikan pendapat atau opininya. Baik melalui lisan, media cetak, maupun media elektronik/online. Namun, hal yang perlu diingat, bahwa kebebasan kalau tidak berbudaya dan beretika akan membawa konsekuensi hukum. Untuk itu, harus berhati-hati.

Baca Juga  Kapitalisasi Penghasil Hoax di Era Post-truth

Para pakar komunikasi penjuru dunia sekarang sepakat, dan membenarkan bahwa era modern ditandai dengan era informasi. Penguasaan dan hegemoni informasi bisa menempatkan kekuasaan sebagai konsekuensi logis. Informasi menjadi hal yang sangat penting saat ini, bahkan komoditi termahal di dunia kini sebenarnya informasi.

Prediksi dan analisis Alvin Toffler (1980), menjelaskan bahwa era kemanusiaan dibagi dalam tiga era utama yaitu era masyarakat agraris, masyarakat industri dan masyarakat informasi, telah dan sedang menjadi kenyataan umum yang mau tidak mau harus diakui.

Di balik profit oriented dari hadirnya teknologi informasi seperti media sosial, marketplace, dan keluarga teknologi informasi lainnya, ada virus yang lebih berbahaya dari COVID-19. Yakni, hadirnya konspirasi informasi yang disebut dengan hoax yang merupakan bagian dari kesatuan dari kapitalisasi media.

“Konspirasi Informasi” Kebohongan

Kasus-kasus hoax yang terjadi kian menguat. Seperti beredarnya surat pada tanggal 18 Juni 2020, tentang seleksi sekolah prioritas berkop Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam rangka program merdeka belajar dan guru penggerak. Pihak Kemendikbud memastikan bahwa surat tersebut merupakan surat palsu.

Kasus hoax lain, seorang yang mengaku bernama John Titor tiba-tiba tampil di forum-forum diskusi di internet sekitar tahun 2000-2001, dan mengaku sebagai tentara Amerika yang menjadi penjelajah waktu dari tahun 2036. Titor mengaku mendapatkan misi mengambil komputer IBM 5100 untuk mengatasi kerusakan komputer saat ini, memprediksi masa depan, dan konflik Amerika yang lalu menjadi perang saudara di tahun 2008.

Selanjutnya kasus hoax yang banyak beredar, akun Facebook Komar Komarudin mengirim sebuah video dengan narasi: “Video pembuangan jenazah-jenazah korban Covid-19 di laut Meksiko”, hal tersebut merupakan hoax alias berita bohong.

Baca Juga  Barbeque Techniques Two Methods To Consider

Fakta tersebut merupakan video tahun 2018, dan tidak terkait virus corona COVID-19. Melainkan aksi skydive yang berupaya memecahkan rekor dunia paradiving dengan menerjunkan 222 penerjun payung oleh Aerograd Kolomna, sebuah klub olahraga penerbangan dan skydiving terbaik dari negara Rusia.

Sadar atau tidak, banyak media massa di penjuru dunia yang sudah menganut paham kapitalisme, atau terkapitalisasi. Media massa dijadikan alat juang dan promosi kapitalisme, bahkan sebagai alat untuk meraih keuntungan dengan sebesar-besarnya.

Permasalahan yang timbul dari penggunaan media sosial saat ini adalah kapitalisasi media berkedok hoax yang menyebar luas. Bahkan orang terpelajar pun tidak bisa bedakan mana berita yang benar, advertorial, dan hoax. Penyebaran tanpa dikoreksi maupun dipilah, pada akhirnya akan merugikan banyak pihak.

Hoax di Era Rasulullah SAW

Mengutip Jurnal Maulana, dalam karyanya yang berjudul Kitab Suci dan Hoax: Pandangan Al-Quran dalam Menyikapi Berita Bohong (2017), menjelaskan bahwa Istilah berita bohong (hoax) dalam Al-Quran bisa diidentifikasi dari pengertian kata اإلفك (al-Ifk), yang berarti keterbalikan (seperti gempa yang membalikkan negeri), tetapi yang dimaksud kebohongan besar.

Selanjutnya beliau menjelaskan munculnya hoax (sebuah kebohongan) disebabkan oleh orang-orang pembangkang. Adapun pelaku hoax sendiri biasanya memang sudah diniatkan dengan maksud tertentu. Dalam hal ini, Alquran menyebutnya “iktasaba”. Iktasaba menunjukkan bahwa penyebaran isu itu dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Sebenarnya, kasus hoax yang melanda di Indonesia akhir-akhir ini bukanlah sesuatu yang baru. Jauh sebelumnya, pada masa Nabi Muhammad pun sudah beredar serupa berita hoax. Bahkan fenomena ini terjadi pada keluarga Nabi Muhammad SAW sendiri.

Fenomena tersebarnya berita bohong sendiri sebenarnya sudah dijelaskan dalam Alquran, sebagaimana dalam QS. An-Nur ayat 11. Menurut sebuah riwayat, munculnya QS. An-Nur ayat 11 tak lain karena adanya tuduhan zina yang ditujukan kepada Aisyah ketika ia akan pulang menuju Madinah bersama pasukan Muslimin.

Baca Juga  Teknologi Informasi: Ladang Jihad Baru

Kemudian di sebuah perjalanan, Aisyah merasa kehilangan kalungnya. Namun, saat Aisyah mencari kalung yang hilang tersebut, pasukan Muslim malah meninggalkannya dan mengira Asiyah sudah bersama mereka. Pada saat itulah Aisyah merasa tertinggal. Ia kemudian kebingungan.

Aisyah pun tertidur akibat rasa kantuknya. Setelah beberapa lama, kemudian seorang sahabat bernama Safwan bin al-Mu’att al Al-Sulami Al-Dhakwani melihatnya. Safwan mengucap lafal innalillahi dan kemudian mengantarkan Aisyah hingga sampai kepada rombongan kaum Muslim. Namun, setelah terjadinya peristiwa ini, beberapa dari masyarakat malah ramai-ramai membicarakan dan menyebarkan berita bohong tentang Aisyah.

Hingga selama sebulan, Aisyah merasakan ada yang berbeda dari Rasulullah SAW dalam menyikapinya, bahkan hendak mendiskusikan untuk menceraikan Aisyah atas hal ini. Aisyah terus mengeluh dan mengadu dalam doa kepada Allah SWT tentang apa yang telah terjadi, hingga ahirnya turunlah QS. An-Nur ayat 11 yang menjawab kegelisahannya.

Upaya Konkrit Menepis Berita Hoax

Dari permasalahan tersebut, dapat kita simpulkan bahwa kecaman bagi orang-orang yang menuduh istri Nabi Muhammad SAW, yaitu Aisyah, tanpa bukti-bukti. Hingga ancaman azab ataupun balasan Allah yang dilakukan manusia terhadap orang yang membawa berita bohong.

Perlu adanya upaya konkrit dalam menangkal hoax secara sederhana, yakni Cek, Saring, dan Share (CS2) saat setiap kali memperoleh informasi. Selain itu ada tips yang agak humor tapi serius dari penulis, yaitu “naikkan intelektual anda, maka hoax akan sirna.”

Editor: Zahra

Print Friendly, PDF & Email
Avatar
8 posts

About author
Preli Yulianto dilahirkan di Desa Tugumulyo (OKU Timur) pada tanggal 09 April 1996 merupakan anak ke tiga dari Ayahanda Warsito, dan Ibunda Tumini. Pendidikan Sekolah Dasar telah diselesaikan Tahun 2009 di SD Negeri 1 Tugumulyo, Sekolah Menengah Pertama Tahun 2012 di SMP Negeri 3 Belitang Madang Raya, Sekolah Menengah Umum Tahun 2015 di SMA Negeri 1 Belitang Kabupaten OKU Timur. Penulis terdaftar sebagai mahasiswa Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Palembang dari tahun 2016-Sekarang. Preli Yulianto bercita-cita ingin menjadi seorang penulis professional yang dapat menghasilkan karya-karya yang bisa dibaca oleh manusia seluruh dunia. Aktif dalam kegiatan organisasi seperti sebagai kader KHM Sumatera Selatan dan Ortom Muhammadiyah seperti Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Dalam IMM pernah menjabat sebagai Sekretaris Umum PK IMM FP UM-Palembang tahun periode 2017-2018, Ketua Umum PK IMM FP UM-Palembang periode 2018-2019, dan sekarang masih aktif menjabat menjadi Sekretaris Bidang Media dan Komunikasi PK IMM FP UM-Palembang periode 2019-2020, serta aktif sebagai Sekretaris Bidang Hikmah PC IMM UM-Palembang periode 2019-2020. Aktif juga dalam kegiatan-kegiatan sosial seperti dalam Komunitas Laskar Impian yang merupakan sebagai pendiri dan Ketua Umum (tahun 2017-sekarang), dan juga koordinator Manuver Intelektual Progresif (MIP). Preli Yulianto bisa dihubungi email: [email protected] atau di 082280687695.
Articles
Related posts
Perspektif

Menerapkan Pendidikan Berbasis Hati dalam Dunia Pendidikan

3 Mins read
“Selamat Hari Guru Nasional bagi yang memperingatinya. Semoga dengan Hari Guru Nasional, pengabdian guru dan jajarannya semakin ikhlas dan semakin diridhoi Allah…
Perspektif

Bagaimana Asal Mula Munculnya Pendidikan Seksual?

4 Mins read
Di Eropa, sudah lebih dari setengah abad pendidikan seksual diterapkan menjadi salah satu subjek dalam kurikulum sekolah. Bermulai dari Swedia pada tahun…
Perspektif

Dua Cara Membangun Iklim Positif di Lingkungan Sekolah

2 Mins read
Sekolah merupakan sebuah lembaga pembelajaran formal yang berisi siswa sebagai aktor pembelajar dan guru sebagai aktor pengajar yang bertujuan untuk menciptakan generasi…

Tinggalkan Balasan