Rumput Tetangga yang Lebih Hijau - IBTimes.ID
Perspektif

Rumput Tetangga yang Lebih Hijau

3 Mins read

Sering kita mendengar sebuah ungkapan dalam peribahasa “rumput tetangga lebih hijau”. Bolehlah kita maknai bahwa sebenarnya setiap orang memiliki ladang dan rumputnya sendiri, sama seperti yang lain. Tetapi sebenarnya apa sih yang terkandung di dalam ungkapan “rumput tetangga lebih hijau” di atas?

Dilihat dari Wikipedia bahwa arti dari ungkapan “rumput tetangga lebih hijau” adalah apa yang dimiliki oleh orang lain terkadang terlihat lebih indah, lebih baik, dan lebih dari apa yang kita miliki sendiri.

Secara tidak langsung “rumput tetangga lebih hijau” tersebut memberikan sebuah peringatan dan petuah betapa pentingnya sebuah rasa syukur atas nikmat yang Allah limpahkan kepada setiap makhluk-Nya. Perilaku syukur banyak tertulis dalam Al-Quran. Hendaknya ini menjadi perilaku yang dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Sikap syukur mampu menghindarkan kita dari sikap iri kepada sesama. Juga sikap nrimo ing pandum yang berarti menerima segala rezeki yang telah Allah berikan kepada kita.

Status rezeki ialah netral. Aartinya rezeki sudah merupakan ketetapan Allah. Kemudian bagaimana cara kita mendapatkan atau mencari rezeki tersebut merupakan sebuah pilihan dari masing-masing individu. Cara inilah yang nanti membuat status rezeki berubah menjadi halal atau haram. Jika dicari dengan cara yang benar maka rezeki tersebut halal bagi kita, begitu juga sebaliknya.

Hendaknya berapapun dan apapun rezeki yang diperoleh hendaknya selalu disyukuri. Sebagaimana Islam memberikan solusi dan pelajaran sebuah makna syukur nikmat Allah SWT.

Anjuran Bersyukur

وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ   

 “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim: 7)

Baca Juga  Beli Baju Lebaran, Keinginan atau Kebutuhan?

Dalam ayat di atas dengan jelas menginsyaratkan terkait anjuran untuk bersyukur. Tapi apa sih itu syukur?

Kata syukur secara bahasa bermakna membuka, menampakkan, menyingkap dan menunjukkan. Syukur juga bermakna sebuah ungkapan pujian karena adanya kebaikan yang diperoleh seseorang. Sehingga syukur adalah pengakuan terhadap nikmat yang diberikan Allah SWT disertai ketundukan dan menggunakan nikmat tersebut sesuai dengan syariat dan kehendak-Nya.

Sebuah konsep sederhana yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya yaitu “bersyukurlah kalian kepada-Ku maka Aku akan tambah nikmat kepadamu”. Sikap syukur merupakan implementasi dari wujud kepuasan batin kepada Allah atas nikmat yang diberikan baik banyak maupun sedikit. Melalui sikap syukur Insya Allah keridhaan Allah SWT akan didapatkan.

Setelah berusaha maksimal dan memperoleh yang diharapkan, baik sedikit ataupun banyak, pada hakikatnya kita telah memperoleh nikmat yang banyak. Mengingat bahwa nikmat Allah tidak hanya materi tetapi juga non-materi. Selanjutnya, apabila kita menafikan atau mengingkari nikmat Allah maka azab Allah sangat pedih.

Implementasi

Ulama menjelaskan bahwa sikap bersyukur memenuhi 3 unsur yaitu mengakui nikmat Allah SWT secara batin atau didalam hati, melafadzkan nikmat secara zhahir atau dengan lisan, dan menggunakan nikmat tersebut dengan anggota badan sesuai syariat yang diridhai Allah.

Implementasi rasa syukur akan mengikis rasa iri dalam diri. Terkadang hidup terasa berat dan tidak nyaman ketika nikmat Allah yang telah diberikan secara tidak langsung kita lalaikan dan dinafikan. Misal: dalam kehidupan bermasyarakat. keadaan setiap keluarga tentulah berbeda-beda, ada yang memiliki kecukupan penghasilan  adapula yang kekurangan. Nah, ketika perbedaan tersebut tidak dibarengi dengan ungkapan syukur, menjadi mungkin iri itu muncul.

Pada saat tetangga mampu membeli barang barang baru misalnya. Kemudian muncul rasa iri hati, kebakaran jenggot yang memaksa untuk menyaingi dengan berbagai cara. Mulai dari membeli barang yang sama atau bahkan lebih. Perasaan inilah yang membuat kehidupan tak tanang.

Baca Juga  Nikah Online (2): Apakah Boleh Dilakukan?

Cara pandang seperti ini sebenarnya kurang tepat. Yang lebih utama menjadi perhatian ialah bagaimana kita dapat mensyukuri yang dimiliki serta manakar sejauh mana kemampuan diri pribadi. Sebab ketika tidak di barengi manajemen dan rasa syukur yang terjadi adalah ketidaknyamanan dalam kehidupan. Karena selalu berpatokan kepada orang lain yang berada di atas kita. Padahal kita juga perlu melihat yang lebih bawah guna mendapatkan rasa syukur.

Nasehat Luqman

Mari kita ingat sebuah nasehat daripada Luqman al Hakim kepada putranya yang diabdikan dalam QS. Luqman: 12

……وَمَن يَشۡكُرۡ فَإِنَّمَا يَشۡكُرُ لِنَفۡسِهِۦۖ ……

“…. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri”

Dalam tafsir Ibnu Katsir  ayat tersebut mengandung makna “Barangsiapa yang bersyukur, maka manfaat dan pahalanya akan kembali pada dirinya sendiri”. Sikap syukur harus diyakini sebagai perilaku terpuji yang mendatangkan kebaikan pada pelakunya. Namun sebaliknya bagi yang mengingkari nikmat Allah.

وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٞ  …

“..dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”.

Allah SWT menegaskan bahwa sikap syukur yang akan kembali kepada pelakunya. Namun pesan tersirat dalam ayat itu adalah bahwa Allah itu Maha Kaya, tidak butuh kepada makhluk. Jika seseorang tidak bersyukur, tidak akan membuat Allah terluka dan tidak pula mengurangi kekuasaan Allah SWT. Tetapi Allah juga telah meningatkan kepada kita bahwa ketika lupa atas nikmat-Nya, siksa-Nya sangat pedih.

Luqman telah mengajarkan sebuah nasehat kepada kita supaya selalu mensyukuri atas segala macam nikmat Allah SWT. Terutama nikmat yang begitu besar seperti: nikmat keimanan, Islam, kesehatan, dan kesempatan.

Perilaku syukur tidak dapat dilepaskan daripada masalah akidah. Syukur merupakan ekspresi kepuasan atas nikmat dari Allah SWT. Bukan dilihat dari banyak sedikit, besar kecilnya, mudah tidaknya didapat, tetapi lebih kepada keyakinan bahwa rezeki Allah bagi semua makhluk telah dijamin. Sehingga tidak perlu larut dalam kekhawatiran yang membuat manusia menjadi kurang produktif, putus asa atau iri kepada orang lain.

Baca Juga  Sektor Pariwisata: Devisa Menurun Akibat Pandemi COVID-19

Adapun diantaranya manfaat bersyukur ialah

Pertama, Mendapatkan tambahan nikmat dari Allah, seperti yang telah dijelaskan didalam QS. Ibrahim: 7.

Kedua, Selamat dari siksa atau azab Allah, juga telah dijelaskan dalam QS. Ibrahim: 7.

Ketiga, Mendapatkan pahala yang besar, seperti janji Allah didalam QS. Ali Imran:144.

Keempat, Bahagia dalam menjalani kehidupan, bersyukur membuat orang menjalani hidup lebih indah karena tidak terbebani kenyataan.

Kelima, Memiliki kestabilan jiwa, sikap syukur identik dengan watak kesabaran, sedangkan kesabaran berdampak kepada kesehatan.

Editor: Sri/Nabhan

Avatar
2 posts

About author
Pengajar Pendidikan Agama Islam Sekolah Dasar Negeri Asemcilik Aktifis LAZISMU Kulon Progo Aktifis BADKO TKA TPA Sentolo
Articles
Related posts
Perspektif

Nasehat Terbuka untuk Yahya Waloni

4 Mins read
Esensi Dakwah Yahya Waloni adalah pendakwah Islam yang berlatar belakang mualaf. Hal ini menjadi nilai tambah sehingga beliau sering diundang ceramah oleh…
Perspektif

Bisakah Ramadhan Menyelamatkan Indonesia?

5 Mins read
Datangnya Ramadhan Tantangan dan ujian terasa sudah menyatu dengan kehidupan. Tak ada hidup tanpa di dalamnya juga terisi dengan problematika. Kita yang…
Perspektif

Isu Terorisme: Soal Agama atau Ketidakadilan?

3 Mins read
Membaca “Islam Radikal” Banyak orang yang memberikan perspektif mengenai kekeliruan dalam melihat soal terorisme dan kaitannya dengan Islam yang memang tidak pernah…

Tinggalkan Balasan

Mari Kolaborasi
Mari Berkolaborasi bersama kami "IBTimes.ID - Cerdas Berislam" dan para kontributor lainnya untuk memproduksi narasi Islam yang mencerahkan.
Donasi dapat melalui Bank Mandiri 137-00-5556665-3 a.n Litera Cahaya Bangsa