Sosial Media: Nir-Kebijaksanaan, Nir-Makna

 Sosial Media: Nir-Kebijaksanaan, Nir-Makna

Ilustrasi. Sumber: Detik.com

Oleh: Faris Ibrahim*

“Mau tahu sesuatu yang lucu?,” tawar Dufresne di sela- sela lemari buku kepada karibnya, Red. “apa? Katakan padaku,” balas Red‒ tertarik. Dufresne menyungging senyum penuh arti, wajahnya melandai dekat. Sambil memelankan suaranya di sela rak, Dufresne mulai berbisik menyasar daun telinga teman se-rutannya itu, kata dia: “Di luar aku adalah pria yang jujur. Masuk penjara aku malah mulai (belajar) jadi penjahat.”

Bagi yang sudah pernah nonton film lawas: The Shawshank Redemption (1994) besutan Frank Darabont, pasti sudah tidak asing lagi dengan dialog menarik Tim Robbins dan Morgan Freeman di atas.

Stephen King ‒ pemilik asli kisahnya‒ memang jagonya soal ramu- meramu alur cerita yang bikin bulu kuduk merinding. Tapi untuk karyanya yang satu ini, sepertinya bukan itu tujuannya. The Shawshank Redemption malah kentara muatan kritik sosialnya.

Selain tertuju pada kaum elit yang semena- mena, karyanya itu juga boleh jadi adalah sindiran yang coba menggelitik mereka. Yaitu manusia modern yang bermuka dua di kesehariannya.  Umpamanya dewasa ini dalam kasus bermedia.

Hari ini banyak orang- orang seperti Dufresne yang baik- baik saja di dunia nyata sebelum punya sosial media. Setelah punya, bukan malah memanfaatkannya. Dengan gawai pintarnya, mereka malah belajar banyak hal untuk melakukan hal- hal tak lazim.

Cikal Bakal Lahirnya Media Sosial

Menurut Nezar Patria‒aktivis dan wartawan senior‒ akar pikiran lahirnya sosial media yang jadi wajah kemajuan teknologi, sebenarnya bisa ditelusuri sejak zaman pencerahan dan juga revolusi industri di sepanjang abad ke-17 dan ke- 18.

Obsesi yang tengah menjamur di Eropa saat itu adalah semacam kegandrungan “mengukur segala obyek setepat mungkin: semacam obsesi akan presisi.” Rakyat Eropa saat itu, sedang giat- giatnya menilik segala detil fisik: ukuran, bentuk, isi dari realitas material.

Ukurlah yang dapat diukur, dan buatlah agar dapat diukur sesuatu yang tidak dapat diukur.” Kata Galileo, sebagaimana disarikan Jostein Gaarder di Dunia Sophie-nya. Dengan kata lain, semangat yang melahirkan sosial media adalah semangat yang menjanjikan terciptanya kehidupan masyarakat yang berjalan percaya diri. dengan kekuatan akalnya‒ melawan mereka para pemuka gereja di abad pertengahan yang memonopli kebenaran.

Jadi, rahim yang melahirkan sosial media, sebenarnya, adalah semangat untuk berpikir rasional. Apalah kata Galileo‒ berkesempatan membaca kelakuan manusia zaman sekarang yang dibutakan oleh bias informasi di sosial media.

Mereka dininabobokan oleh algoritma para programmer yang menggiring mereka untuk mengonsumsi informasi yang mereka minati saja. Yang mereka baca dan mereka tonton, yang muncul di beranda, dan kanal kesukaan mereka saja.

Di Amerika, yang konservatif tontonannya: Fox News. Yang liberal: CNN dan MSNBC. Sisanya blokir, atau kalau perlu taruh nomor channel-nya di yang ke- 100 sekian. Di pusaran post- truth, masyarakat membatasi konsumsi informasinya hanya pada kecendrungan diri. Bukan lagi pada kegandrungan mencari kebenaran.  Cita- cita masa pencerahan (enlightenment)‒ untuk melahirkan manusia dengan akal yang cerah‒ terkubur bersama kekecewaan Galileo membaca nasib cucu- cucunya.

Kawah Nir-makna

Karena terbiasa buram melihat kebenaran, akhirnya manusia modern benar- benar luput makna akan kebenaran. Kebingungan itulah yang membuat mereka percaya diri melakukan hal- hal tidak benar.

Dari mulai ngikut- ngikut orang ke mana pun pergi (follow), sampai nerobos rumah orang untuk lihat- lihat foto idola (stalking). Semua ketidaklaziman di dunia nyata itu, bisa Dufresne lakukan dengan mudahnya di (penjara) sosial media. Cukup dengan menggesek layar di gawai pintarnya.

Masih karya pena Stephen King. Jikalau masih ada perumpamaan yang pas bagi para empunya sosial media yang kehilangan kebijaksanaan, Pennywise di ceritanya: IT, boleh jadi adalah salah satu yang paling tepat menyarunya.

Di kota Derry, Pennywise menghibur anak- anak dengan kelap-kelip balon dan dan warna- warni pakaiannya. Di dalam selokan, lain lagi cerita. Pennywise menculik Georgie dan anak-anak kota untuk dapat diapungkan jadi hiasan tempat tinggalnya.

Mereka yang nir-kebijaksanaan bersosial media, bermain muka di dunia nyata, mengelabui orang, membangun citra diri baik-baik, menyirat rapat-rapat aib yang bermuara dalam diri. Diam-diam, tanpa seorangpun (perlu) tahu‒  di ‘selokan’ sosial media, barulah mereka mengairi hasrat-hasrat kelam yang meluap dalam diri, dalam sebentuk aksi- aksi tidak wajar, yang menerobos norma- norma kehidupan manusia di dunia nyata.

Apalah artinya dusta, bagi mereka yang tidak lagi mengindahkan norma. Di sosial media, alih-alih menampilkan kedirian yang sebenarnya, mereka malah menampilkan kedirian yang seirama dengan selera pasar.

Pasar suka pujangga, mereka siap mengukir kata-kata cinta di dinding (penjara) sosial media. Sehari sekali. Atau dua dan tiga juga tak mengapa. Bahkan lima kali sehari pun seperti sholat wajib mereka sanggupi. Demi mendapat predikat pujangga di mata masyarakat (apalagi calon mertua).

Sosial Media yang Disalahgunakan

Sayang, fungsi sosial media sebagai penyambung lidah ekspresi kedirian dengan jujur, hari ini malah latah disalahgunakan. Dufresne dan karib- karibnya mencemari sosial media dengan dustanya. Mereka lebih memilih menjadi hamba pasar yang menjajakkan dirinya sesuai pesanan khalayak awam‒ menghianati jadi diri sendiri.

Karenanya, sosial media tak ubahnya seperti penjara Shawshank atau selokan Pennywise apabila tuannya tak mampu bijaksana menghuninya. Yang kasat mata memang terlihat berbatas, namun sejatinya yang tidak berbatas amat sangat luas di sana.

Dengan segala bentuk kebijakan privasi yang seperti kawat berduri di tembok penjara, sosial media tidak juga menjamin jemari-jemari penggunanya bisa bijaksana dalam memilah informasi, mengindahkan norma, jujur dalam menampilkan kedirian.

Jangan sampai sosial media jadi seperti penjara Shawshank bagi Dufresne yang kebalik-balik. Bukan malah membantunya jadi pribadi yang baik, penjara malah mempertemukannya dengan komplotan criminal guna belajar melakukan hal- hal yang tidak baik.

Sosial media mengandung embrio cita-cita mereka para pencerah untuk melahirkan manusia yang berjalan dengan akal budi. Bukan malah diakal-akali oleh tuan modal pemilik industri aplikasi untuk dikuras isi dompetnya.

Tom Nichols penulis The Death Of Expertise menganologikan internet dengan Hukum Sturgeon yang mengatakan: “90 persen dari semua hal (di dunia maya), adalah sampah.” Benar jadi. Sosial media adalah selokan bagi para pemulung mengais sampah informasi.

Sekaligus wadah bagi mereka untuk memuntahkah sepah ekspresi diri. Sosial media menjanjikan milyar bunga tumbuh bersamaan dalam satu taman, namun sebagian besarnya berbau busuk.

Meskipun busuk, sampah- sampah itu bisa bernilai kebaikan jika dikelola oleh para arif bijaksana. Sebaliknya di tangan Pennywise sampah yang membusuk mencemari kepribadiannya yang kalem di dunia nyata, menjadi kelam di ‘selokan’ dunia mayanya. “Al- hikmatu dhōlatul mu’min,” sabda Rosūlullāh ﷺ. Hikmah itu adalah barang hilang milik orang beriman. Mu’min yang berbudi pekerti luhur bisa mememungut hikmah yang dicari- carinya di mana saja, hatta di selokan sekalipun.

Allāhu a’lam

*Mahasiswa jurusan Aqidah- Falsafah Universitas al- Azhar, Kairo.

RedaksiIB

https://ibtimes.id

IBTimes.id Kanal Islam Berkemajuan. Menyajikan wacana keislaman, keindonesiaan dan kemanusiaan untuk menenebarkan perdamaian dan mengokohkan kebhinnekaan.

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *