Review

Swaajar, Alternatif Pembelajaran Jarak Jauh Era Covid-19

3 Mins read

Semenjak pertengahan Maret lalu, terhitung sudah 9 bulan lamanya pembelajaran sekolah di Indonesia dilakukan dengan metode pembelajaran jarak jauh atau daring.  Hal demikian dilakukan sebagai ikhtiar untuk memutus rantai penyebaran Covid-19. Belum lama ini, lewat Surat Keputusan Bersama (SKB) empat menteri yang diterbitkan pertengahan November lalu, pemerintah mengizinkan sekolah untuk menyelenggarakan pembelajaran tatap muka pada awal tahun 2021 dengan persyaratan ketat yang harus dipenuhi.

Dampak Negatif dari Pembelajaran Jarak Jauh

Keputusan pemerintah tersebut disambut baik oleh masyarakat. Pasalnya, pembelajaran jarak jauh dinilai tidak efektif dan membosankan bagi peserta didik. Meski begitu, tak sedikit juga orang tua yang khawatir akan keselamatan anaknya.

Menurut survei yang dilakukan oleh Litbang Kompas pada akhir November lalu, 85 persen responden setuju dengan kebijakan pemerintah untuk membuka sekolah kembali. Namun, ada 14 persen responden yang tidak setuju dengan pertimbangan kasus Covid-19 masih tinggi.

Diakui atau tidak, pembelajaran jarak jauh melahirkan beragam persoalan baru bagi dunia pendidikan Indonesia. Persoalan yang paling utama adalah kesenjangan antara siswa di perkotaan dan di pedesaan. Bagi siswa di perkotaan, pembelajaran jarak jauh tidak begitu menjadi kendala. Berbeda dengan siswa di pedesaan, pembelajaran jarak jauh menjadi masalah yang tidak terelakkan. Kesenjangan tersebut terdapat pada jaringan teknologi.

Alih-alih dapat meningkatkan mutu pendidikan, pembelajaran jarak jauh justru memperlebar jurang kesenjangan masyarakat. Tidak hanya itu, pembelajaran jarak jauh di tengah pandemi juga menurunkan performa PISA (Programme for International Student Assessment) siswa Indonesia sebesar 21 poin. Ia sebagaimana telah diberitakan Kompas di tajuk rencana (20/11/2020) yang berjudul ‘Memacu Pendidikan Indonesia’. Namun, sebelum masa pandemi, performa anak Indonesia memang masih tertinggal dari negara-negara di kawasan.

Baca Juga  Islamisme Kelas Menengah NU: Pergeseran dari Moderatisme ke Post-Islamisme

Wacana Model Pendidikan Indonesia

Hal demikianlah yang menjadi pokok bahasan buku Kasmaran Berilmu Pengetahuan (2019). Buku setebal 198 halaman ini adalah kumpulan artikel yang pernah tayang di kolom opini Kompas, ditulis oleh Iwan Pranoto, guru besar matematika Institut Teknologi Bandung (ITB). Selain mengajar di ITB, Iwan pernah ditugaskan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sebagai atase Pendidikan dan Kebudayaan untuk India dan Bhutan, di KBRI New Delhi, India dari 2014 sampai 2018. Oleh sebab itu, tak heran jika Iwan memiliki petualangan intelektual luas dan memahami ceruk kelemahan pendidikan di Indonesia.

Untuk mengejar ketertinggalan pendidikan sekarang, diperlukan model pendidikan yang tepat bagi manusia Indonesia. Bagi Iwan, model pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mengedepankan proses belajar dengan mengutamakan sikap meragui atau skeptis. Artinya, seseorang dilatih untuk tidak mudah mempercayai sesuatu yang diterima olehnya. Proses meragui tidak hanya akan mengukuhkan pendapat, tetapi menumbuhkan kebijaksanaan si subjek (halaman 3).

Jika budaya meragui tumbuh subur pada diri seseorang, ia akan menjadi insan yang bijaksana dan tentu saja rendah hati. Pada akhirnya, ia akan sadar bahwa pendapatnya belum tentu sempurna, boleh jadi ada celah kelemahan yang tak disadarinya.

Dengan demikian, seorang pelajar tidak akan mudah menyalahkan liyan dan menjadi pribadi yang intoleran. Selain itu, kebiasaan meragui tampaknya sangat relevan dengan kondisi mutakhir. Mengingat arus informasi yang berlimpah, perlu diverifikasi, dicek kebenarannya melalui kecakapan bernalar dan meragui.

Konsep Swajaar di Masa Pembelajaran Jarak Jauh

Jauh sebelum wabah Covid-19 meluluhlantakkan tatanan sosial dan mengubah wajah pendidikan di Indonesia, Iwan telah merancang terobosan pembelajaran baru yang relevan untuk anak di daerah terpencil sehingga mereka dapat belajar dari rumah. Terobosan tersebut berangkat dari pengamatan Iwan terkait kurangnya tenaga guru di daerah terpencil.

Baca Juga  Menjadi Agamis Sekaligus Feminis

Kemudian, Iwan mengenalkan pendekatan ‘swaajar’ atau mengajar diri sendiri. Pendekatan swaajar mengedepankan proses belajar yang tidak bergantung pada guru melainkan peserta didik dirangsang agar belajar secara mandiri.

Melalui piranti komputer, anak dapat mengakses berbagai informasi yang dibutuhkan untuk swaajar. Jika akses internet belum dijangkau di daerah tertentu, peserta didik dapat mempersiapkan fail bahan ajarnya untuk disimpan di hard disc komputer sehingga anak dapat mengaksesnya kapan saja.

Tentu saja, bahan ajar yang disiapkan perlu diperbarui secara berkala. Dengan demikian, anak dapat belajar mandiri. Menurut Iwan, melalui lingkungan yang didesain untuk swaajar, boleh jadi anak akan lebih efektif belajar mandiri, daripada diajar asal-asalan oleh pengajar tak kompeten.

Lewat buku ini, kita diajak Iwan untuk ikut serta memajukan pendidikan di Indonesia. Selain itu, kita akan menemukan gagasan-gagasan segar Iwan yang barangkali tidak terbersit sama sekali dalam benak kita. Buku ini wajib dibaca oleh siapa pun.

***

Judul: Kasmaran Berilmu Pengetahuan

Penulis: Iwan Pranoto

Cetakan: 2019

Tebal: xxvi + 198 hlm., 14cm x 21 cm

ISBN: 978-602-412-868-5

Penerbit : Penerbit Buku Kompas

Editor: Shidqi Mukhtasor

Print Friendly, PDF & Email
4 posts

About author
Mahasiswa asli Rembang yang kini belajar di prodi KPI IAIN Surakarta. Beberapa tulisan lainnya dapat dijumpai di alif.ID.
Articles
Related posts
Review

Kisah-Kisah Lucu Orang Madura di Tanah Suci

4 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Berbincang mengenai jamaah haji yang sedang menunaikan rukun Islam kelima, saya tiba-tiba teringat dengan sebuah buku yang…
Review

Menyingkap Kisah Ajaib Syekh Abdul Qadir Jaelani

4 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Kisah-kisah yang tertuang di dalam buku ini, Kisah-Kisah Ajaib Syekh Abdul Qadir Jaelani, sama persis dengan judul…
Review

Suleymanli & Gulen, Wajah Komunitas Muslim yang Akomodatif dengan Nilai Barat

4 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Pada abad ke-20, minoritas Muslim muncul di Eropa untuk mencari pekerjaan, perlindungan dari konflik dan perang, serta…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *