Setelah tiga tahun berlalu, bisa jadi lebih beberapa bulan saja, saya akhirnya berjumpa dan melingkar kembali bersama teman-teman di Maarif Institute. Lebih tepatnya teman-teman yang pernah bersilang pandang dan bertukar gagasan, dari berbagai daerah, mulai Sumatera sampai Papua. Melalui Maarif Institute perjumpaan itu terjadi. Landasan fundamentalnya adalah mengaji dan mentadabburi gagasan-gagasan Buya Ahmad Syafii Maarif. Sesuai dengan nama Maarif Institute. Gagasan egalitarianisme, kemanusiaan dan inklusifitas. Ini menjadi penting untuk dikaji bareng, terus menerus sampai pada titik tungkunya. Agar perapian itu tetap menghangatkan, memasak serta menanakkan gagasan praxisnya.
Tentu di tengah gegap dan geliat informasi yang begitu bandangnya, kita dipermudah pun dipersulit akhirnya. Mudah menerima informasi, tapi sulit membedakan kebenaran dan berita bohongnya. Pun penggiringan isu untuk menutupi, bahkan mensamarkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dari Malang, saya berangkat ke Jakarta untuk ngaji bareng, tadarus pemikiran Buya Ahmad Syafii. Sembari bersilaturrahmi dengan para santri-santrinya dan penggerak-penggerak sosial-keagamaan lainnya.
Tanpa mengibarkan bendera apapun yang melambari latar belakangnya. Perjumpaan itu bukan sekadar memperingati Hari Buya Ahmad Syafii Maarif, sosok guru bangsa yang kata Gus Mus adalah Wali. Tetapi juga mengaji bersama gagasan-gagasan relevannya dalam menyikapi krisis dan perubahan sosial yang terjadi saat ini.
Isu ekologi, pendidikan dan keadaban publik menjadi tiga isu penting dalam tadarus kali ini. Ini adalah afirmasi dari gagasan Buya yang tidak tercerabut akarnya, ia menjadi begitu fundamental dalam meneropong perubahan sosial yang terjadi. Tidak semata mengakumulasi sumber daya keagamaan (kitab suci dan ragam tradisinya), tetapi juga moralitas dan aktualisasi nilai yang diukur ketersesuaiannya. Buya senantiasa menghadirkan pandangan dan penekatan aksiologis yang tegas. Tidak memihak namun peka terhadap kemanusiaan, rakyat kecil dan menjadi biasa-biasa saja, sederhana.
Melalui ruang kajian bareng di Maarif Institute ini, saya melihat keragaman gagasan, respon dan bahkan sikap yang sangat heterogen dalam menyikapi perubahan sosial saat ini. Dalam konteks apapun, kalau boleh saya meminjam istilah keadaban dari Buya, maka bukan semata keadaban publik. Tetapi juga keadaban berpikir, memihak serta kepekaan yang terbangun atas rasa kamanungsan. Poin utamanya adalah kesadaran yang tumbuh secara reflektif dari proses kajian itu.
Karena Buya bukan sosok yang dikultuskan, ndilalahnya saja melalui Buya kita banyak belajar, dan warisan pengetahuan itu masih terjaga serta dapat dikristalisasi ke dalam berbagai ruang sosial, jenjang dan ralitas yang dinamis. Dari Buya dan mata rantai perjumpaan yang terus berjalan. Kita belajar bagaimana merawat perjumpaan itu dengan berbagai kolaborasi. Pengupayaan dan penegasan-penegasan posisi (entry poin) untuk mendulang pengetahuan dan menyebarkannya sebagai kemasalahatan dan kebaikan yang tumbuh bersama.
Ada artikel menarik dari karib saya berjudul “Tasawuf Algoritmis”, mas Busyro dari Pajaran. Ia menegaskan bahwa apa yang kita pikirkan seperti halnya algoritma yang ada di sosial media, dan memengaruhi tawaran untuk dilihat, disukai dan dishare.
Artinya, semakin kita sering melihat, memikirkan bahkan mencari tema tertentu dalam sosial media, maka yang tampak adalah apa yang kita cari dan sesuatu yang memper dengan itu. Lalu bagaimana jika pikiran itu dilarikan pada mengingat dan membaca segala TandaNya? maka yang muncul menjadi respon adalah tidak jauh dari itu semua.
Kita kerap terjebak pada hardware, sesuatau yang tampak, perangkat keras, dan berbagai hiasan pernak-perniknya. Sedangkan asumsi software kerap dipersepsikan pada aspek mahalnya, updatenya, dan bahkan virus dan tetekbengeknya, ya wajar sebenarnya, virus dan rangkaian update pada software ibarat internalisasi nilai pada manusia, saat latar belakang, akumulasi empiris, menjadi salah satu pengaruh atas pembentukan pola pikir, cara berpikir dan cara bersikap. Bijak dan tidaknya itu tergantung pada rangkaian internalisasi itu.
Dalam kontek tasawuf ekologis pun demikian. Bahwa lingkungan adalah saudara tertua dari manusia, makhluk yang begitu fluktuatif. Tenggang rasa pada konservasi dan rangkaian gerak lingkungan perlu disadari, disandarkan pada Gusti, meminjam istilah dari Mbah Nun, ini menisbatkan pada cinta segitiga; Tuhan, Manusia dan Kanjeng Nabi, turunannya adalah Alam Semesta, lebih mengerucut lagi adalah kesalingan yang terbangun antara manusia dan lingkungan.
Sayangnya, kerakusan manusia dan “merasa” pintarnya itulho, yang kerap membuat kerusakan di muka bumi ini, kita bisa lihat bagaimana perihal tambang, penggarapan lahan produktif menjadi industri, menjadi perumahaan dan berbagai bangunan yang mengambil alih fungsi dasarnya.
Sampah, dampak industri, dampak ketidak pedulian itu menjadi bukti bahwa ayat Tuhan itu benar, memang manusia itu kerap membuat kerusakan di muka bumi ini. Walaupun tidak semua, tetapi tetap terjadi. Walaupun dibedakan dengan kadar dan ukurannya.
Olah rasa, kesadaran, dan mulat sarira, itu penting untuk senantiasa ditumbuhkan. Dari dalam diri, personal bahkan kalau bisa harus menjadi kesadaran kolektif. Masalahnya adalah merasa, punya kesempatan, punya kuasa, dan punya umat.
Pada intinya, membangun tiga aspek itu penting, olah rasa adalah bagian dari refleksi yang harus senantiasa mengalir ke dalam dan sanubari, sedangkan kesadaran adalah aspek yang secara natural sudah ada dan tinggal diasah setiap kali, kemudian introspeksi diri, banyak-banyaklah kita ini perlu berkaca dan bercakap dengan diri sendiri.
Menjaga lingkungan bukan semata tentang alam, ia juga berkaitan dengan lingkungan sosial, karena manusia menyandang status juga sebagai jagad cilik. Sebagai mikro kosmos, manusia juga perlu mengurus alamnya, agar tidak ditambang, tidak dieksploitasi, sehingga cara berpikirnya terkendali dan tidak sempoyongan.
Editor: Anas Nashuha


