back to top
Senin, Juli 6, 2026

Tim Asia Jadi Pecundang di Piala Dunia

Lihat Lainnya

IBTimes.ID – Tim Asia harus menelan pil pahit pada perhelatan Piala Dunia 2026. Alih-alih menunjukkan kemajuan, turnamen empat tahunan ini justru menjadi panggung penampilan terburuk bagi kontingen dari benua kuning sejak edisi 2014. Dari sembilan wakil yang berpartisipasi, tujuh di antaranya terpaksa angkat koper lebih awal setelah gagal menembus fase grup. Sebuah catatan kelam yang menyisakan tanda tanya besar mengenai daya saing sepak bola di kawasan ini.

Padahal, sebelum turnamen bergulir, banyak pihak memprediksi bahwa penambahan jumlah peserta dari 32 menjadi 48 tim akan menjadi angin segar bagi negara-negara Asia. Harapan tersebut tampak masuk akal dengan hadirnya wajah-wajah baru seperti Jordania dan Uzbekistan yang mencatatkan debut bersejarah. Sementara itu, kekuatan tradisional seperti Australia, Korea Selatan, dan Jepang diproyeksikan tidak hanya sekadar menjadi penggembira, tetapi mampu melangkah jauh hingga babak gugur.

Namun, realita di lapangan berkata lain. Tim Asia seperti Iran, Irak, Korea Selatan, Jordania, Uzbekistan, Arab Saudi, dan Qatar harus merasakan getirnya tersingkir di fase grup. Hanya Australia dan Jepang yang berhasil mencatatkan nama mereka di babak 32 besar. Akan tetapi, langkah keduanya pun tidak mulus. Jepang harus mengakui keunggulan Brasil, sementara Australia gugur secara menyakitkan melalui drama adu penalti kontra Mesir.

Secara statistik, performa tim Asia sepanjang Piala Dunia 2026 sangat mengkhawatirkan, dengan hanya mengoleksi tiga kemenangan dari total 29 pertandingan yang dijalani. Angka ini menjadi bukti nyata inferioritas benua Asia saat berhadapan dengan kekuatan dari Afrika, Amerika, hingga Eropa. Ironisnya, meskipun mengirimkan jumlah wakil terbanyak sepanjang sejarah partisipasi mereka, tidak ada satu pun negara Asia yang menembus babak 16 besar, sebuah kemunduran yang belum pernah terjadi sejak 2014.

Baca Juga:  Negosiasi Berlangsung di Oman, Trump Kirim Kapal Perang Kedua ke Iran

Di balik statistik yang mengecewakan, muncul diskusi mendalam mengenai apa yang sebenarnya melilit sepak bola Asia. Philippe Troussier, mantan pelatih berpengalaman yang pernah menukangi Jepang, Qatar, dan Vietnam, memberikan analisis tajam. Menurutnya, secara taktis, tim-tim Asia sudah menunjukkan perkembangan pesat. Mereka tampil dengan organisasi permainan yang baik, disiplin, serta pola taktik yang solid.

Namun, kelemahan mendasar terletak pada minimnya pemain dengan kualitas individu di atas rata-rata yang mampu menjadi pembeda di momen krusial.

”Di Piala Dunia, organisasi yang baik sangat penting, tetapi di level tertinggi, Anda juga membutuhkan pemain yang dapat menciptakan sesuatu yang istimewa dalam satu momen,” ujar Troussier.

Lebih jauh, Troussier menyoroti permasalahan kedalaman skuad. Baginya, sebuah tim juara ditentukan oleh kualitas pemain pengganti yang setara dengan sebelas pemain utama.

”Tim utama Jepang kompetitif, tetapi cedera membuat pilihan pemain penyerang jadi terbatas ketika mereka sangat membutuhkannya. Menurut saya, itulah perbedaan terbesar dibandingkan dengan banyak tim Afrika,” papar pelatih asal Perancis itu.

Ia menyimpulkan bahwa pemain Afrika memiliki keunggulan kompetitif karena pengalaman mereka berkompetisi di liga-liga elite Eropa secara konsisten.

Fenomena kegagalan tim Asia juga mendapat sorotan dari penulis sepak bola, Simon Chadwick, dalam tulisannya di laman Forbes.com berjudul ”Why Asian Nations Struggled at the 2026 World Cup”. Chadwick merinci beberapa faktor krusial yang membuat sepak bola Asia masih belum mampu berbicara banyak di pentas global.

Baca Juga:  MDMC Sampaikan Strategi Kebijakan Penanggulangan Bencana di Forum ASEAN

Pertama adalah isu popularitas olahraga di dua negara dengan populasi terbesar, China dan India. Di China, bola basket jauh lebih dominan, sementara India lebih tergila-gila pada kriket. Minimnya atensi publik terhadap sepak bola di dua negara raksasa ini berdampak pada nilai komersial hingga ekosistem pembinaan pemain, yang membuat FIFA terpaksa menjual hak siar di kawasan tersebut dengan harga yang kurang kompetitif.

Kedua adalah jebakan dominasi lokal. Jepang memang mendominasi kawasan Asia, namun dominasi itu tidak relevan ketika berhadapan dengan tim luar benua. Chadwick menyebut ada persoalan mendasar pada kualitas pemain dan struktur kompetisi yang membutuhkan campur tangan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) lebih dalam. Meskipun banyak pemain Jepang dan Korea Selatan kini merumput di Eropa, jumlah dan kualitasnya belum cukup untuk mendongkrak performa di level kaliber Piala Dunia.

Ketiga, masalah regenerasi dan investasi. Qatar dan Arab Saudi menjadi contoh bagaimana dana besar selama 20 tahun terakhir tidak serta-merta menjamin prestasi. “Generasi emas” Qatar yang sempat berjaya di Piala Asia 2019 dan 2023 kini mulai menua dan membutuhkan peremajaan skuad. Arab Saudi, yang sedang bersiap menjadi tuan rumah Piala Dunia 2034, menghadapi tantangan lebih pelik untuk segera membenahi tim agar tidak kehilangan muka di depan publik sendiri.

Keempat adalah dampak geopolitik. Situasi konflik yang melibatkan Iran dengan AS-Israel secara tidak langsung turut memengaruhi mental dan performa para pemain. Meski begitu, Iran patut diapresiasi karena mereka tidak pernah kalah di fase grup, meski tetap tersingkir karena gagal menjadi tim peringkat ketiga terbaik.

Baca Juga:  Pembatasan Jabatan Ketum dan Reformasi Lembaga Partai Politik di Indonesia

Penghargaan khusus layak diberikan untuk Iran karena mereka tidak pernah kalah di fase grup, meskipun tersingkir karena gagal menjadi tim peringkat ketiga terbaik. Dampak perang dan perlakuan diskriminatif dari AS ternyata tidak mampu meruntuhkan mental ”Tim Melli”. Salut!

Kegagalan tim Asia di Piala Dunia 2026 adalah sinyal bahaya yang harus segera direspons. Kesenjangan pengalaman dan kualitas individu menjadi mata rantai yang hilang, yang menjadikan tim-tim dari benua ini terlihat seperti “kurcaci” di hadapan raksasa dunia.

Masih ada waktu empat tahun bagi konfederasi dan federasi sepak bola nasional di Asia untuk mengevaluasi diri sebelum Piala Dunia 2030 tiba. Harapan baru muncul seiring dengan tekad negara-negara seperti Indonesia, sebagai salah satu kekuatan sepak bola Asia Tenggara, yang mulai mematok target tinggi untuk menjadi debutan di masa depan. Namun, tanpa pembenahan mendasar pada kedalaman skuad dan kualitas liga domestik, mimpi untuk keluar dari status “pecundang” di pentas dunia akan tetap menjadi tantangan yang sangat berat.

(Assalimi)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru