back to top
Sabtu, Juli 25, 2026

Piala Dunia 1448 H/2026: Membangun Tim Masa depan KHGT

Lihat Lainnya

Susiknan Azhari
Susiknan Azhari
Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Ketua Divisi Hisab dan Iptek Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dan Direktur Museum Astronomi Islam.

Piala Dunia 1448 H/2026 telah resmi berakhir pada Senin, 6 Safar 1448/20 Juli 2026. Spanyol keluar sebagai juara setelah melalui rangkaian pertandingan yang memperlihatkan kualitas permainan, kedalaman strategi, dan kematangan organisasi tim. Seperti turnamen-turnamen besar sebelumnya, Piala Dunia tidak hanya menghadirkan hiburan bagi para pencinta sepak bola, tetapi juga menyajikan banyak pelajaran yang dapat dipetik dari berbagai sudut pandang.

Olahraga, terutama sepak bola, sering kali menjadi cermin kehidupan. Nilai-nilai seperti disiplin, kerja sama, kepemimpinan, kesabaran, keadilan, dan kemampuan beradaptasi tampak nyata dalam setiap pertandingan. Karena itu, tidak mengherankan jika dunia olahraga sering dijadikan rujukan untuk memahami dinamika organisasi, dunia usaha, bahkan pengembangan ilmu pengetahuan melalui pengggunaan kecerdasan buatan untuk mewujudkan keadilan. Hal ini dipicu tragedi Letexier dalam memimpin pertandingan antara Argentina dan Mesir (Farid Mustofa).

Tulisan ini mencoba membaca Piala Dunia 1448 H/2026 dari perspektif yang berbeda. Fokusnya bukan pada statistik pertandingan atau daftar pencetak gol, melainkan pada bagaimana tim-tim terbaik membangun kekuatan kolektif. Dari sana muncul pertanyaan menarik, adakah pelajaran yang dapat diterapkan dalam pengembangan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT)? Menurut hemat penulis, jawabannya ada. Bahkan, pelajaran tersebut layak menjadi bahan renungan bersama.

Ketika Tim Lebih Penting daripada Bintang

Sepanjang sejarah sepak bola dunia, kehadiran pemain bintang selalu menjadi daya tarik tersendiri, misalnya Pele, Garrincha, Zico, Ronaldo Nazario, Ronaldinho (Brasil), Johan Cruyff, Ruud Gullit, Marco van Basten, Dennis Bergkamp (Belanda), Franz Beckenbauer, Gerd Muller, Lothar Matthaus, Jurgen Klinsmann, Oliver Kahn, Miroslav Klose (Jerman), Michel Platini, Zinedine Zidane, Thierry Henry, Kylia Mbappe (Perancis), Eusebio, Luis Figo, Cristiano Ronaldo (Portugal), Mario Kempes, Diego Maradona, Gabriel Batistuta, Juan Roman Riquelme, Lionel Messi (Argentina), Bobby Charlton, Gary Lineker, David Beckham, Steven Gerrard, Wayne Rooney (Inggris), dan Iker Casillas, Xavi Hernandes, Andres Iniesta, Ferran Tores, Lamine Yamal (Spanyol).

Nama-nama besar tersebut memang menghiasi sejarah perjalanan sepak bola dunia dan menjadi simbol kekuatan sebuah negara. Namun, pengalaman juga menunjukkan bahwa keberadaan pemain hebat tidak otomatis menjamin keberhasilan apabila tidak ditopang oleh organisasi tim yang baik. Dalam kajian manajemen diistilahkan “Great teams are built on systems, not on stars.”

Tim yang hebat dibangun oleh sistem, bukan semata-mata oleh bintang.

Piala Dunia 1448 H/2026 kembali menegaskan kenyataan tersebut. Tim-tim yang mampu melangkah jauh umumnya bukan hanya memiliki individu-individu berkualitas, tetapi juga memiliki sistem permainan yang berjalan efektif. Setiap pemain memahami tugasnya, saling mendukung, dan bersedia bekerja untuk kepentingan tim.

Dalam sepak bola modern, kemenangan semakin ditentukan oleh kualitas organisasi permainan. Pelatih tidak lagi hanya menyusun sebelas pemain terbaik, tetapi juga membangun mekanisme kerja yang memungkinkan setiap pemain berkontribusi sesuai kapasitasnya. Dengan demikian, ketika satu pemain mengalami penurunan performa atau mendapat pengawalan ketat, pemain lain mampu mengambil peran tanpa mengurangi kekuatan tim.

Baca Juga:  KHGT dan Masa Depan Kalender Islam: Pelajaran dari Penentuan Awal Ramadhan 1447H

Pelajaran ini sesungguhnya tidak hanya berlaku di lapangan hijau. Hampir semua organisasi dan lembaga yang sukses dibangun di atas prinsip yang sama, yaitu membentuk sistem yang mampu bekerja secara berkelanjutan tanpa bergantung pada satu figur. Dengan kata lain kesuksesan sebuah organisasi atau lembaga tidak lahir dari satu tokoh, melainkan dari sistem pembinaan secara berkelanjutan dan kerja tim yang solid.

Argentina Tidak Lagi Bergantung pada Messi

Salah satu pertandingan yang banyak diperbincangkan adalah semifinal antara Argentina dan Inggris. Sebagai juara bertahan, Argentina tetap menjadi salah satu favorit. Perhatian publik tentu tertuju kepada Lionel Messi, pemain yang selama bertahun-tahun menjadi ikon sepak bola dunia.

Messi hampir selalu menjadi sasaran utama pertahanan lawan. Setiap kali menguasai bola, dua hingga tiga pemain segera menutup ruang geraknya. Dalam pertandingan semifinal pun situasi serupa kembali terjadi. Inggris menyadari bahwa memberikan sedikit ruang kepada Messi dapat berakibat fatal.

Namun, keistimewaan Messi tidak hanya terletak pada kemampuan menggiring bola atau mencetak gol. Ia dikenal memiliki kecerdasan membaca permainan yang luar biasa. Ketika pemain lain berlari tanpa henti, Messi justru sering terlihat berjalan santai. Bagi orang yang tidak memahami sepak bola, sikap tersebut mungkin tampak sebagai tanda menurunnya intensitas permainan.

Padahal, pada saat itulah ia sedang mengamati seluruh lapangan. Ia memperhatikan posisi lawan, membaca arah pergerakan rekan setim, memperkirakan ruang kosong yang akan terbuka, lalu menentukan kapan saat terbaik melakukan akselerasi. Begitu peluang muncul, ia bergerak cepat dan memanfaatkan momen dengan sangat efektif.

Kemampuan semacam ini tidak lahir secara tiba-tiba. Ia merupakan hasil pengalaman panjang, latihan, dan pemahaman mendalam terhadap permainan. Karena itu, Messi sering disebut sebagai pemain yang tidak hanya bermain dengan kaki, tetapi juga dengan pikiran (Abd Rohim Ghazali).

Menariknya, kekuatan Argentina pada Piala Dunia kali ini tidak hanya bertumpu pada Messi. Di bawah kepemimpinan Lionel Scaloni, Argentina berkembang menjadi tim yang jauh lebih kolektif dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

Julián Álvarez, Alexis Mac Allister, Enzo Fernández, Rodrigo De Paul, dan pemain-pemain lainnya tampil dengan tanggung jawab yang sama besar. Mereka aktif membuka ruang, membangun serangan, membantu pertahanan, dan menciptakan peluang. Dengan pola permainan seperti ini, lawan tidak cukup hanya menghentikan Messi.

Strategi tersebut membuat pertahanan Inggris menghadapi persoalan yang tidak mudah. Jika terlalu fokus mengawal Messi, pemain lain memperoleh ruang untuk berkembang. Sebaliknya, apabila perhatian terbagi kepada pemain lain, Messi justru memiliki kesempatan menunjukkan kualitasnya (Abd Rohim Ghazali).

Baca Juga:  Islam itu Agama Etis, Bukan Formalistik

Fenomena ini menunjukkan bahwa organisasi permainan lebih menentukan daripada ketergantungan terhadap seorang pemain. Bintang tetap penting, tetapi ia menjadi lebih efektif ketika berada dalam sistem yang sehat.

Inspirasi Bagi Pengembangan KHGT

Pelajaran tersebut relevan ketika dikaitkan dengan pengembangan Kalender Hijriah Global Tunggal. Selama ini, pembahasan mengenai kalender Islam sering kali lebih menonjolkan tokoh-tokoh tertentu. Padahal, pengembangan sebuah sistem kalender yang berskala global membutuhkan kerja kolektif yang jauh lebih luas.

KHGT bukan sekadar persoalan astronomi. Di dalamnya terdapat dimensi fikih, astronomi, matematika, sejarah, teknologi informasi, diplomasi, komunikasi publik, hingga kebijakan kelembagaan. Setiap bidang memerlukan keahlian yang berbeda sehingga tidak mungkin seluruh pekerjaan dipikul oleh satu orang.

Karena itu, pengembangan KHGT perlu diarahkan menjadi kerja kelembagaan. Tim yang terlibat harus memiliki pembagian tugas yang jelas. Ada yang memperkuat aspek Islamic Studies (Tafsir, Hadis, Fikih, dan Usul Fikih), ada yang mengembangkan metode hisab, ada yang bertanggung jawab pada pemodelan astronomi, ada yang mengelola publikasi ilmiah, dan ada pula yang membangun komunikasi dengan berbagai lembaga nasional maupun internasional.

Apabila seluruh unsur tersebut bekerja secara sinergis, maka pengembangan KHGT akan menjadi lebih kuat dan berkelanjutan.

Meninggalkan Dikotomi Agama dan Sains

Pengembangan KHGT juga memerlukan cara pandang yang terbuka terhadap hubungan antara agama dan sains. Dalam sejarah peradaban Islam, keduanya berkembang secara berdampingan. Banyak ilmuwan Muslim mampu menjadi ahli fikih sekaligus astronom, matematikawan, dan filsuf.

Karena itu, tidak tepat apabila agama dan sains diposisikan sebagai dua kutub yang saling berhadapan. Justru keduanya saling melengkapi dalam menjawab kebutuhan umat.

Kajian fikih memberikan landasan normatif mengenai prinsip-prinsip kalender Islam. Sementara itu, astronomi menyediakan instrumen ilmiah yang memungkinkan perhitungan dilakukan secara akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Ketika keduanya berjalan bersama, peluang menghasilkan formulasi kalender yang lebih kokoh menjadi semakin besar.

Untuk itu, Tim KHGT memerlukan anggota yang memiliki keterbukaan berpikir, kesediaan berdialog, dan kemampuan bekerja lintas disiplin ilmu. Perbedaan keahlian bukan alasan untuk saling mempertentangkan, melainkan modal untuk menghasilkan sintesis yang lebih baik.

Membangun Budaya Kolegial: Dari Figur Menuju Sistem

Pelajaran lain yang tidak kalah penting adalah pentingnya budaya kolegial. Dalam sebuah tim sepak bola, penjaga gawang tidak mungkin menggantikan seluruh tugas penyerang. Sebaliknya, penyerang juga tidak dapat bekerja sendirian tanpa dukungan pemain belakang.

Prinsip yang sama berlaku dalam pengembangan KHGT. Setiap anggota memiliki fungsi yang berbeda, tetapi seluruh fungsi tersebut saling berkaitan. Tidak ada bidang yang dapat dianggap paling menentukan, karena keberhasilan hanya dapat dicapai apabila seluruh komponen bekerja secara harmonis.

Baca Juga:  Hukum Jual Beli Sepatu dari Kulit Babi

Budaya kolegial juga menuntut adanya saling percaya. Setiap anggota diberi ruang untuk berkembang sesuai bidang keahliannya, sekaligus bersedia menerima masukan dari anggota lain. Dengan cara seperti ini, organisasi tidak mudah terguncang meskipun terjadi pergantian kepemimpinan atau regenerasi.

Pengalaman banyak organisasi besar menunjukkan bahwa institusi yang mampu bertahan dalam jangka panjang adalah institusi yang berhasil membangun sistem, bukan sekadar mengandalkan figur.

Dalam banyak organisasi, keberhasilan sering kali dikaitkan dengan tokoh tertentu. Kehadiran tokoh memang penting sebagai sumber inspirasi dan penggerak perubahan. Akan tetapi, organisasi yang sehat tidak boleh berhenti pada ketokohan.

Sistem yang baik harus mampu melahirkan kader baru, membagi tanggung jawab, mendokumentasikan pengetahuan, dan memastikan proses regenerasi berjalan secara alami. Dengan demikian, keberlangsungan organisasi tidak bergantung pada hadir atau tidaknya seseorang.

Dalam konteks KHGT, tokoh-tokoh yang telah memberikan kontribusi besar tentu layak memperoleh penghargaan. Pemikiran dan dedikasi mereka merupakan bagian penting dari perjalanan sejarah kalender Islam. Namun, penghargaan terhadap tokoh tidak boleh berubah menjadi ketergantungan yang menghambat lahirnya generasi penerus.

Sebaliknya, kontribusi para pendahulu semestinya menjadi fondasi untuk melahirkan inovasi baru yang lebih relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan umat Islam pada masa kini.

Catatan Akhir

Piala Dunia 1448 H/2026 memberikan pelajaran yang melampaui urusan sepak bola. Turnamen ini menunjukkan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kehadiran pemain terbaik, tetapi terutama oleh kemampuan membangun tim yang solid, saling melengkapi, dan bekerja berdasarkan sistem yang jelas.

Pelajaran tersebut memiliki relevansi yang kuat bagi pengembangan Kalender Hijriah Global Tunggal. KHGT merupakan ikhtiar besar yang membutuhkan kontribusi banyak disiplin ilmu, banyak lembaga, dan banyak sumber daya manusia. Karena itu, pendekatan yang paling tepat adalah memperkuat kerja kolegial, membangun budaya ilmiah yang terbuka, serta mengembangkan sistem yang mampu bertahan melampaui pergantian generasi.

Sebagaimana sebuah tim sepak bola yang tidak bergantung pada satu pemain, demikian pula pengembangan KHGT seharusnya tidak bertumpu pada satu figur. Masa depan KHGT akan lebih terjamin apabila dibangun melalui kolaborasi yang sehat, pembagian peran yang proporsional, penghargaan terhadap keahlian setiap anggota, dan komitmen bersama untuk menghadirkan kalender Islam yang dapat menjadi rujukan umat di tingkat global.

Di situlah pelajaran paling berharga dari Piala Dunia 1448 H/2026, kemenangan sejati lahir dari kekuatan sebuah tim, bukan semata-mata dari kehebatan seorang individu. Dengan demikian, keberhasilan KHGT tidak hanya diukur dari lahirnya tokoh-tokoh besar, tetapi juga dari kemampuannya membangun tradisi keilmuan yang terus berkembang. Peradaban tidak dibangun oleh satu orang, melainkan oleh sistem yang memungkinkan banyak orang berkontribusi secara berkelanjutan.

Wa Allahu A’lam bi as-Sawab

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru