Bagai Meniti Jalan Sunyi: Begini Rahasia Buya Syafii Ketika Menulis - IBTimes.ID
Feature

Bagai Meniti Jalan Sunyi: Begini Rahasia Buya Syafii Ketika Menulis

3 Mins read

“Banyak membaca, mendengar, dan merenung!” komentar Buya Ahmad Syafii Maarif secara singkat dan padat sewaktu ditanya apa resepnya yang paling jitu ketika hendak menulis. “Banyak merenung supaya tulisan ada kontemplasinya,” tegas Buya mengawali percakapan ringan bersama kami awak media Suara Muhammadiyah (14/2/2017).

Pada waktu itu, Buya belum seintens seperti sekarang ini datang ke kantor Suara Muhammadiyah. Memanfaatkan waktu luang bersama Buya, kami sempat berdiskusi ringan soal macam-macam topik. Sampai akhirnya ada kesempatan untuk mengorek  rahasia dan kiat-kiat Beliau dalam melahirkan tulisan-tulisan bermutu.  

Membaca, Mendengar, dan Merenung

Banyak membaca, mendengar, dan merenung (kontemplasi). Itulah rahasia Buya Ahmad Syafii Maarif dalam melahirkan karya tulis, terutama artikel-artikel yang sudah menjadi langganan di media massa nasional. Menulis itu ibarat menapaki jalan sunyi. Apalagi syarat mutlak menulis, bagi Buya Syafii, harus melewati proses kontemplasi.   

Pertama, membaca. Memang apa saja yang dibaca oleh Buya? Bisa buku-buku, artikel-artikel, atau realitas yang pusparagam. 

Kedua, mendengar. Apa atau siapa yang Buya dengar? Suara-suara pinggiran atau gemuruh khalayak ramai. Hingga akhirnya ia dihadapkan pada pilihan sulit untuk memutuskan satu di antara puluhan atau mungkin ratusan ide yang bersemayam di benak.

Ketiga, merenung atau kontemplasi. Ketika satu ide telah terikat, saatnya Buya memasuki dunia sunyi: kontemplasi. Dalam kontemplasi, lahirlah pikiran-pikiran jernih dan mendalam.

67 Tahun Menulis

Lahir di Sumpurkudus (Sijunjung, Sumatera Barat) pada 31 Mei 1935, kini usia Buya sudah kepala delapan dan mendekati kepala sembilan (subhanallah, semoga panjang umur Buya!). Sungguh, Buya menjadi fenomena unik karena teori psikologi maupun ekonomi seakan-akan tak mempan untuk menilai sosok yang satu ini.

Di usia yang makin uzur, dalam teori psikologi, ingatan seseorang akan semakin menurun (pikun). Usia kepala delapan bahkan mendekati kepala sembilan, dalam teori ekonomi, bukan lagi kategori usia produktif. Tetapi anehnya, semakin uzur, Buya justru semakin jernih dan mendalam pemikirannya. Alumni Madrasah Muallimin Muhamamadiyah Yogyakarta ini makin produktif melahirkan karya tulis berbobot.

Baca Juga  Millenial di Pusaran Islamofobia

Ketika ditanya, sejak kapan Buya mulai menulis? Sambil berkelakar, ia menjawab “Saya mulai menulis sejak kelas 3 Muallimin. Umur saya sekitar 18 tahun, baru belajar menulis. Wong saya anak kampung!”

Jika umur 18 tahun atau ketika masih duduk di bangku kelas 3 Muallimin jadi patokan, artinya Buya telah menapaki jalan sunyi sebagai penulis selama kurang lebih 67 tahun. Itu artinya Buya yang tahun ini berumur 85 tahun telah menghabiskan 2/3 dari umurnya, bahkan lebih, untuk menulis. Sungguh luar biasa!

Kapan Waktu Menulis?

Kesibukan Buya memang luar biasa, tetapi masih sempat menulis. Lalu terbetik sebuah pertanyaan, “kapankah waktu yang tepat untuk menulis, Buya?” Banyak yang ingin tahu kapan sosok penulis prolifik ini menuangkan ide-ide besarnya.

“Tiap orang lain-lain. Kalau saya bisa kapan saja,” jawabnya.

Jika bisa menulis kapan saja atau di mana saja, berarti sosok Buya memang telah mencapai maqam-nya—meminjam istilah sufistik—untuk menyebut sosok penulis sejati. Konon, seorang sufi mampu merasakan “sunyi dalam keramaian.” Atau sebaliknya, “ramai dalam kesunyian.”

Artinya, di tengah hiruk-pikuk dan aktivitas yang padat, Buya masih mampu merenung, menapaki jalan sunyi untuk menemukan ide besar di antara sliweran ide-ide kecil yang remeh-temeh. Atau, dalam kesunyian Buya mampu menghadirkan “perdebatan bisu” di antara ide-ide besar yang bersemayam di benaknya.       

“Harus ada filter! Harus ada keputusan! Jangan sampai karena banyaknya ide jadi bingung, akhirnya tidak menulis!” tegas Buya.

Mengritik Tanpa Beban

Sebagai penulis prolifik, Buya Syafii memang piawai memilah dan memilih tema-tema penting yang sangat dibutuhkan pembaca. Keberanian dan ketegasan untuk memilih satu tema dalam tulisannya jelas lahir dari jiwa yang tulus dan merdeka. Tanpa pamrih dan tidak tersandra oleh kepentingan tertentu.

Baca Juga  Tiga Pendekar Kemanusiaan: Gus Dur, Cak Nur, dan Buya Syafii

Ketika mengritik pola pikir mayoritas umat Islam, Buya tulus melakukannya demi kebaikan umat Islam. Atau ketika memuji sosok kepemimpinan nasional, Buya tulus melakukannya bukan karena berharap jabatan. Toh, ia sudah uzur. Tidak ada ambisi bagi Buya untuk meminta jabatan, karena usianya sudah kepala delapan!

Jiwa yang merdeka membuat Buya tak punya beban ketika menyampaikan kritik. Bahkan, sosok Buya yang begitu dihormati di kalangan Muhammadiyah dan akademisi/intelektual sampai-sampai dibully di media sosial hanya karena ia menyampaikan pendapat berseberangan dengan mayoritas umat.

Mengatasi Kesulitan Menulis

“Adakah kesulitan ketika mengawali menulis suatu artikel, Buya?” Ini mungkin gejala umum bagi para penulis pemula. Ketika memilih kalimat pembuka atau menyusun paragraph pertama, di situlah letak kesulitannya. Dan ternyata, Buya pun mengalaminya juga.  

Kata Buya Syafii, kepiawaian dalam menulis itu bukan karena bakat bawaan. Kemampuan menulis juga bukan karena gelar akademik. Menjadi penulis itu karena kebiasaan. Dengan begitu, proses pembentukan pribadi seorang penulis sesungguhnya relatif. Tentunya, akan lebih bagus lagi jika sudah ada bakat dan membiasakan diri menulis.

Sosok penulis yang kisahnya menarik untuk dijadikan pelajaran bagi generasi muda, menurut Buya, adalah sosok Ali Audah. Penulis produktif yang tidak lulus Sekolah Dasar (SD) ini, kata Buya, berhasil melahirkan karya-karya bermutu yang tidak terhitung jumlahnya.

Editor: Nabhan 

Avatar
120 posts

About author
Pengkaji sejarah Muhammadiyah-Aisyiyah, Anggota Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah.
Articles
    Related posts
    Feature

    Membangun Peradaban Berbasis Iqra' dan Wasjud

    3 Mins read
    Peradaban yang di bangun oleh Muhammad saw adalah peradaban intelektual yang religius. Ada dua aspek yang sangat menonjol dalam peradaban ditawarkan oleh…
    Feature

    Konflik Muhammadiyah dengan PKI

    2 Mins read
    Perjuangan Muhammadiyah yang seirama dengan komunisme yang hadir dalam diri Haji Fachrodin ternyata juga menemui jalan pertentangan. Pada tahun 1920 terjadi persinggungan…
    Feature

    Film Pengkhianatan G30S/PKI Propaganda?

    3 Mins read
    Satu ingatan kolektif kita jika menyebut tanggal 30 September, yaitu pengkhianatan PKI. Tepat tanggal 30 September 1965 Indonesia selalu teringat pada peristiwa…

    Tinggalkan Balasan