Beranda Feature Inspiring Haji Samanhoedi: Senja Sang Pelopor

Haji Samanhoedi: Senja Sang Pelopor

Oleh: Mu’arif

Di dalam kamar berukuran kecil, lelaki tua renta sedang berbaring lemah di atas tempat tidur. Tubuhnya kurus terbaring di atas tempat tidur yang terbuat dari besi. Di samping tempat tidur sebuah kursi kayu yang diperuntukkan bagi para tamu yang hendak menengok lelaki tua renta itu. Tampangnya memang sudah sulit dikenali sebagai sosok pemimpin berpengaruh pada masa mudanya. Tubuh yang renta menyulitkan ia bangkit dari tempat tidurnya. Suaranya pun nyaris tak terdengar. Ia hanya sedikit berbicara dan itu pun seakan-akan sedang mengeluarkan sisa-sisa energinya untuk mengingat-ingat masa lalunya.

Pada sekitar tahun 1950-an, seorang peneliti yang sedang mengumpulkan data lewat wawancara dengan para tokoh pelaku sejarah merasakan miris melihat kondisi akhir hayat lelaki tua renta itu. Dalam catatan sang peneliti dikisahkan, “Di Klaten itu, ia tinggal di gubuk buruk berlantai tanah, berdinding tepas, di daerah pinggiran.” Kondisi fisiknya sudah berubah seratus persen dibanding masa mudanya. Kondisi ekonominya pun sudah berubah seratus persen dibanding masa jayanya ketika masih menjadi seorang saudagar kaya raya di Laweyan.

Perubahannya seratus persen? Ya, karena dia yang nama kecilnya Wirjowikoro, putra Haji Mohammad Zen, yang lahir di desa Sondokoro, kecamatan Karanganyar, ketika masa mudanya sangat gagah dan pemberani. Seorang organisatoris, pemikir, dan saudagar batik kaya raya. Ia mampu mengorganisasi para pedagang batik di Laweyan mengritik dan memboikot toko-toko penyedia bahan-bahan batik milik keturunan China di Solo. Dia sangat kaya, bahkan sampai mendanai pembentukan asosiasi pedagang batik pribumi bernama Rekso Roemekso(16 Oktober 1905). Tapi ketika sang peneliti mengunjungi lelaki tua renta itu, ia mendapati ‘sang pelopor’ pergerakan nasional sedang sakit dan jatuh miskin. Saking miskinnya, ia hidup menumpang kepada salah seorang cucunya yang tinggal di Klaten.

Agak mengagetkan kisah kehidupan sang cucu lelaki tua renta itu. “Ia tinggal di rumah itu bersama cucunya, yang, Allah melindungi keluarga ini, PKI,” tulis sang peneliti. Sang cucu, yang hidup miskin sambil menanggung hidup sang kakek tua renta itu, adalah seorang aktivis Partai Komunis Indonesia (PKI).

…ia sedang berbaring sakit di tempat tidur,”kisah sang peneliti.“Ia duduk ketika aku datang itu, dan aku duduk di kursi yang disediakan di depan tempat tidurnya.” Tapi sang cucu—yang aktivis PKI itu—justru bersikap berlebihan, berani menjawab pertanyaan-pertanyaan sang peneliti tanpa memberi kesempatan kepada sang kakek untuk menjawab sendiri. Sang peneliti pun sempat risih. Sang kakek tua renta yang sudah sulit berbicara itu nyaris tidak diberi kesempatan untuk menjawab pertanyaan sang peneliti.

Jawaban sang cucu pun cenderung negatif ketika menyinggung hubungan antara kakeknya dengan tokoh nasional H.O.S. Tjokroaminoto. Seakan-akan ia mengetahui peta politik di tubuh Sarekat Islam (SI) padahal ia belum lahir ketika sang kakek mendirikan Sarekat Dagang Islam (SDI) yang kemudian berubah menjadi Sarekat Islam. Ia malah menjelek-jelekkan sosok H.O.S. Tjokroaminoto dan tokoh-tokoh SI lainnya. Seakan-akan antara sang kakek dengan para tokoh SI terdapat konflik serius yang berakhir memojokkan posisinya.

Di situlah sang peneliti mulai tampak sebal melihat cucu dari kakek tua renta itu yang seolah-olah tahu segalanya tentang peta politik nasional pada masanya. Maka dengan tegas sang peneliti memohon agar sang kakek diberi kesempatan untuk menjawab pertanyaannya sekalipun hanya beberapa patah kata. Meski hanya sepatah dua patah kata, tetapi jawaban lelaki tua renta itu cukup memuaskan hati sang peneliti. Selebihnya, sang kakek memperlihatkan foto-foto dokumentasi peristiwa rapat umum Sarekat Islam yang digelar di Solo pada tahun 1911.

Lelaki tua renta itu adalah Haji Samanhoedi, pendiri asosiasi Rekso Roemeksoyang atas jasa RM Tirto Adhi Soerjo berubah menjadi organisasi resmi bernama Sarekat Dagang Islam (SDI). Di kemudian hari, SDI berubah menjadi Sarekat Islam (SI). Sang peneliti tersebut adalah Deliar Noer, seorang sejarawan Muslim yang mengabadikan dirinya untuk penelitan sejarah nasional sampai akhir hayatnya. Ia menuturkan kisah perjumpaannya dengan tokoh ‘Sang Pelopor’ pergerakan nasional, Haji Samanhoedi, dalam otobiografinya, Aku Bagian Ummat Aku Bagian Bangsa: Otobiografi Deliar Noer, (Mizan, 2000: 389-390).

***

Akhir hayat Haji Samanhoedi memang miris. Di masa mudanya, ia seorang yang gagah dan pemberani. Seorang pengusaha batik kaya raya yang mampu membangkitkan semangat nasionalisme kaum bumiputra, terutama para pedagang batik di Laweyan. Hubungannya dengan para aktivis pergerakan nasional sangat baik. Ia menjalin komunikasi yang baik dengan R.M. Tirto Adhi Soerjo, sehingga SDI berhasil memiliki badan hukum resmi. Ia juga menjalin relasi dengan tokoh-tokoh pergerakan lain seperti KH Ahmad Dahlan, H.O.S. Tjokroaminoto, dan lain-lain sehingga Sarekat Islam berhasil menjadi organisasi politik terbesar di tanah air pada masanya.

Hampir seluruh harta, tenaga, dan pikiran pikirannya dicurahkan untuk mengurus organisasi sehingga bisnisnya mengalami kebangkrutan. Perusahaaan batiknya gulung tikar. Terhitung sejak 1922, usai menikahkan anaknya yang kedua (Nyonya Atmohartono), Haji Samanhoedi mulai sakit-sakitan. Kebangkrutan bisnisnya sangat parah sampai-sampai ia harus menumpang hidup kepada anak-anaknya. Dalam kondisi sakit-sakitan, ia harus pindah-pindah menumpang hidup kepada anak-anaknya. Ia pernah tinggal di Nganjuk, Mojokerto, Klaten, dan Laweyan mengikuti anak-anaknya (Muljono & Sutrisno Kutoyo, 1983: 102).

Seorang jurnalis pernah menulis kisah miris sang pelopor yang hidup miskin dan menderita. “Hidup melarat dan menderita. Tinggal di sebuah gubuk tua,” tulis Parada Harahap di media Tjahaya Timur(1940-an). Sang jurnalis menyayangkan nasib sang pelopor yang hampir tidak diperdulikan lagi oleh kawan-kawan seangkatannya. Pemerintah pun seakan tidak perduli nasib sang pelopor yang telah berjasa membangkitkan kesadaran nasionalisme kaum bumiputra lewat SDI-SI. “Kawan-kawannya tak seorang pun yang mengindahkan. Padahal, ia adalah pelopor pergerakan Islam,”tulis sang jurnalis prihatin.

Haji Samanhoedi meninggal dunia di Klaten pada 28 Desember 1956 dalam keprihatinan dan kemelaratan yang miris. Berjuang untuk kepentingan bangsa dan umat Islam, mengorbankan seluruh harta benda, tenaga, dan pikiran sampai-sampai nasib keluarga terabaikan, namun ketika akhir hayatnya, justru tak ada kolega atau sejawat yang memperdulikannya. Seperti kesaksian Deliar Noer, “bagai tak ada yang peduli, tinggal diasuh oleh belahan keluarga sendiri yang tidak berkecukupan pula.” Atau kesaksian Parada Harahap, “Kawan-kawannya tak seorang pun yang mengindahkan.” Apakah sesungguhnya yang terjadi pada akhir hayat sang pelopor sampai-sampai ia terkucil dalam penderitaan dan kemelaratan??

Popularitas nama Haji Samanhoedi, seperti dalam rekaman Deliar Noer, menyebar sampai Surabaya, Yogyakarta, dan Jakarta. Namun namanya berangsur surut kemudian tenggelam bak ditelan bumi seiring kebangkrutan bisnisnya. Juga karena jatuh sakit-sakitan. Tapi terdapat ruang gelap yang sulit diungkap di sini: mengapa di akhir hayat sang pelopor seakan-akan ia tersia-siakan??

*) Peminat kajian sejarah.

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Must Read

Luar Biasa! Pengabdian UMY Perkuat Desain Digital Capaian SDGs Lazismu

IBTimes.ID-Yogyakarta, (16/07 10)- Program pengabdian masyarakat dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, baru-baru ini menggandeng Lazismu (Lembaga Amil Zakat, Infak dan Sadaqah Muhammadiyah) untuk memperkuat capaian...

Unik! Kebencanaan Menjadi Materi Fortasi IPM SMK Muhammadiyah Pontang

IB Times.ID - Ada yang spesial dari pelaksanaan Forum Ta'aruf dan Orientasi (Fortasi) siswa baru siswa baru SMK Muhammadiyah Pontang tahun pelajaran 2019/2020 ini,...

Berakhirnya Kompetisi: Refleksi Milad 58 IPM “Kolaborasi untuk Negeri”

Oleh: Nashir Efendi Milad ke-58 milad Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) mengusung tema “Kolaborasi untuk Negeri”. Tema ini nampaknya ingin menggeser paradigma kompetisi menjadi kolaborasi.  Bicara...

Romo Paryanto: Selain Keuangan, Muhammadiyah Perlu Audit Ideologi dan Kebijakan

Tahun 2020, Muhammadiyah akan gelar perhelatan akbar Muktamar ke-48 di Surakarta.  Akan tetapi syi’ar dan gaung Muktamar yang tinggal satu tahun lagi belum terdengar....

Andaikan IMM Agamaku

Oleh: Yusuf Rohmat Yanuri* Isu agama di Indonesia merupakan isu yang sangat sensitif. Survei menunjukkan bahwa agama di mata masyarakat Indonesia adalah sesuatu yang sangat...