IBTimes.ID – Pendidikan di Indonesia dinilai masih menghadapi tantangan serius dalam membentuk karakter peserta didik yang percaya diri dan berani mengekspresikan diri. Hal ini disampaikan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhadjir Effendy, dalam Pengukuhan Guru Besar Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), Rabu (30/4).
Dalam amanatnya, Muhadjir menyoroti bahwa sistem pendidikan nasional cenderung belum optimal dalam menumbuhkan rasa percaya diri siswa. Kondisi tersebut, menurutnya, terlihat dari perilaku pelajar Indonesia di luar negeri yang cenderung lebih pasif dibandingkan pelajar dari negara lain.
Ia menilai, budaya pendidikan yang berkembang selama ini justru tanpa disadari membatasi ruang ekspresi siswa. Salah satu contoh sederhana adalah kebiasaan yang mendorong siswa untuk diam sebagai bentuk kedisiplinan.
“Itu kelihatannya bagus, tapi sebenarnya tidak bagus karena akan membikin orang tidak berani berekspresi, dan percaya diri,” kata Muhadjir mengutip pidato yang disampaikan Prof. Lina Listiana.
Imajinasi, Kunci Kemajuan Pendidikan Berkemajuan
Lebih lanjut, Muhadjir menegaskan bahwa kemampuan berekspresi dan berimajinasi merupakan fondasi penting dalam perkembangan manusia. Ia menyebut bahwa kemajuan peradaban tidak lepas dari kemampuan imajinatif yang lahir dari kebebasan berpikir.
Menurutnya, imajinasi tidak akan tumbuh dalam lingkungan yang terlalu kaku dan membatasi. Sebaliknya, suasana yang terbuka dan dinamis justru menjadi ruang subur bagi berkembangnya kreativitas dan inovasi.
“Imajinasi itu membutuhkan suasana yang bebas, yang liar. Tanpa suasana liar imajinasi tidak bisa berkembang,” ujarnya.
Dalam konteks tersebut, Muhammadiyah memberikan ruang yang luas bagi pengembangan ide dan gagasan, khususnya di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA). Bahkan, ia menyebut bahwa institusi pendidikan membutuhkan figur-figur yang berani berpikir besar dan keluar dari kebiasaan untuk mendorong kemajuan.
Di sisi lain, Muhadjir juga mengingatkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak boleh membuat manusia kehilangan arah spiritual. Ia menilai bahwa kecenderungan manusia modern yang terlalu mengandalkan rasionalitas berpotensi mengabaikan dimensi keimanan.
Menurutnya, kemajuan yang diusung Muhammadiyah berbeda dengan pendekatan Barat yang cenderung antroposentris. Muhammadiyah menempatkan iman sebagai fondasi penting dalam mengarahkan kemajuan agar tetap membawa nilai kemaslahatan.
Dengan demikian, pendidikan ideal tidak hanya berfokus pada kecerdasan intelektual, tetapi juga harus mampu membangun kepercayaan diri, kebebasan berekspresi, serta keseimbangan antara ilmu dan nilai spiritual. Pendekatan ini diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter dan siap menghadapi tantangan zaman. (NS)


