Taman Pustaka (2): Penerbit dan Toko Buku Muhammadiyah di Masa Kolonial

 Taman Pustaka (2): Penerbit dan Toko Buku Muhammadiyah di Masa Kolonial

Ilustrasi: IBTimes.ID/Galih Qoobid Mulqi

Sebelumnya telah dibahas peran Taman Pustaka dalam literasi di kalangan Muhammadiyah di masa kolonial. Selanjutnya, peran toko buku di masa kolonial dijelaskan secara mendalam.

Taman Pustaka dan Toko Buku

Di samping toko buku F.M., ada toko buku lain yang memainkan peranan krusial dalam penyebaran pemikiran Muhammadiyah di era 1920an itu, yakni toko buku ‘A.S.M’. (Administrateur Soewara Moehammadijah) yang beralamat di Jagang Rotowijayan, Yogyakarta. Sebagaimana diketahui dari namanya, ini adalah toko buku yang berafiliasi dengan Soewara Moehammadijah, majalah resmi Persyarikatan Muhammadiyah.

Sementara majalah Soewara Moehammadijah diperuntukkan bagi berita mengenai perkembangan Muhammadiyah serta pelajaran agama Islam secara ringkas, buku-buku terbitan Taman Pustaka Muhammadiyah yang dijual di toko A.S.M. mengandung pembahasan yang lebih spesifik dan dalam mengenai suatu topik.

Pada tahun 1923, katalog buku yang dijual di toko buku A.S.M sebagian besar berisi buku-buku terbitan Taman Pustaka Muhammadiyah, baik di Yogyakarta maupun di Solo. Untuk melengkapi koleksi pembaca, toko ini juga menjual buku-buku dari penerbit lainnya.

Buku-buku terbitan Taman Pustaka Muhammadiyah Yogyakarta yang dijual di sini antara lain ialah buku Ringkesan Islam (dalam aksara Latin, harganya f 0,40) dan Mardisampoerno 1 & 2 (dalam bahasa Jawa, harga total keduanya f 1).

Sementara itu, buku-buku terbitan Taman Pustaka Muhammadiyah Solo (dan penerbit lainnya) yang dijual di sini antara lain berkenaan dengan tata cara shalat yang diterangkan secara visual agar mudah diikuti (Pesalatan Pake Gambar, dalam bahasa Jawa, harga f 0,22 1/2), pelatihan ibadah haji (Manasik Hadji, dalam bahasa Jawa, harga f 1,90) dan tafsir Al-Qur’an per juz (Tepsier Pegon Djoes 1-2, dalam bahasa Jawa dan aksara Arab, harga f 1,65).

Warga Muhammadiyah Menyambut Baik

Warga Muhammadiyah menyambut baik buku-buku terbitan Taman Pustaka, dan mereka berkeinginan agar Taman Pustaka juga menerbitkan buku bertema lain yang juga dibutuhkan kaum Muslim Hindia Belanda. Pada tahun 1923 misalnya, cabang-cabang Muhammadiyah di berbagai daerah di Jawa mengemukakan usul mereka kepada Pengurus Besar Muhammadiyah di Yogyakarta, khususnya berkenaan dengan buku apa yang mereka anggap perlu diterbitkan oleh Taman Pustaka.

Muhammadiyah cabang Blora meminta agar Muhammadiyah (dalam hal ini via Taman Pustaka) menerbitkan terjemahan dan tafsir Al-Qur’an. Sementara cabang Purbalingga meminta supaya Muhammadiyah menerbitkan kitab tentang ilmu tauhid dengan dalil naqli dan aqli dengan penjelasan yang mudah dimengerti pembaca.

Dalam interaksi antara Taman Pustaka sebagai penerbit buku dan cabang-cabang Muhammadiyah di berbagai daerah sebagai pembaca buku, ada toko buku di tengah mereka. Toko-toko ini akan memastikan bahwa buku-buku Taman Pustaka sampai ke tangan para peminatnya.

Buku yang Dijual

Untuk memperluas cakrawala pengetahuan warga Muhammadiyah khususnya dan kaum Muslim Hindia Belanda pada umumnya, toko buku yang berafiliasi dengan Muhammadiyah memilih untuk tidak hanya menjual buku-buku terbitan Taman Pustaka Muhammadiyah saja. Contoh yang menarik di sini ialah toko buku yang langsung dikelola oleh Persyarikatan Muhammadiyah.

Dari majalah Soewara Moehammadijah yang terbit pada Mei-Juni 1923, diketahui bahwa nama toko buku tersebut ialah ‘Depot Moehammadijah’, yang beralamat di Kauman, Yogyakarta. Dibuka sejak tahun 1923, toko buku ini barangkali merupakan toko buku Islam terlengkap di masanya dalam hal keragaman tema buku yang dijualnya.

Sementara toko buku Islam lainnya hanya menjual buku untuk orang tua, Depot Moehammadijah menyediakan buku untuk orang tua dan anak-anak. Jadi, toko buku ini memberikan bahan bacaan bagi semua anggota keluarga, tidak lagi hanya untuk orang dewasa saja.

Buku yang dijual pun tidak lagi hanya terbitan Taman Pustaka Muhammadiyah Solo atau Yogyakarta, yang umumnya berkenaan dengan soal-soal keagamaan. Tetapi juga keluaran penerbit umum yang berafiliasi dengan pemerintah seperti Volkslectuur (Balai Pustaka) dan Depot van Leermiddelen.

Penjualan Buku Depot Moehammadijah

Menurut Ajip Rosidi dalam Ikhtisar Sejarah Sastera Indonesia (2018 [terbit pertama tahun 1969]), Balai Pustaka di era kolonial menerbitkan setidaknya tiga jenis karya sastra, yakni cerita rakyat dalam bahasa daerah, saduran dari karya sastra asing (termasuk kisah klasik di Eropa) dan karya sastra dari para pengarang baru, umpamanya dua novel pertama dalam bahasa Indonesia, Azab dan Sengsara Seorang Anak Gadis (Merari Siregar, 1920) dan Sitti Nurbaya (Marah Rusli, 1922).

Sementara itu, seorang pustawakan di Universitas Leiden, Doris Jedamski, dalam tulisannya, “Kebijakan Kolonial di Hindia Belanda”, menyebut bahwa Depot van Leermiddelen adalah lembaga yang ditunjuk pemerintah kolonial sejak seperempat terakhir abad ke-19 untuk menyediakan buku bacaan bagi para siswa sekolah yang jumlahnya kian banyak di Hindia Belanda.

Buku yang diterbitkan dan didistribusikan oleh lembaga ini umumnya adalah buku pelajaran sekolah dalam bahasa Melayu, seperti tentang cara berhitung dan ejaan. Yang lainnya ialah buku terjemahan dari bahasa asing, termasuk bahasa Belanda dan bahasa Arab. Di awal abad ke-20, sejumlah buku ditambahkan dan dihilangkan dari katalog Depot van Leermiddelen, tergantung situasi perbukuan yang dihadapi masa itu.

Bahwa toko buku Depot Moehammadijah menjual buku dari tiga penerbit penting di masanya (Taman Pustaka, Balai Pustaka, dan Depot van Leermiddelen) memperlihatkan keinginan untuk menjangkau pembaca yang lebih luas. Dengan datang ke Depot Moehammadijah, para pembaca bisa mendapatkan buku-buku agama Islam yang diterbitkan oleh Taman Pustaka Muhammadiyah, buku sastra yang dipublikasikan oleh Balai Pustaka, dan buku pelajaran untuk kanak-kanak yang disediakan oleh Depot van Leermiddelen.

Dengan kata lain, pengetahuan yang disebarkan melalui buku yang dijual oleh toko buku Depot Moehammadijah telah kian komplit. Hal ini terjadi karena mencakup pengetahuan keagaaman sekaligus pengetahuan yang penting dalam kehidupan sehari-hari, plus apresiasi terhadap karya sastra.

Lokomotif Pengetahuan

Oleh sebab itu, dapatlah dikatakan bahwa tingkat literasi yang relatif tinggi di antara warga Muhammadiyah untuk ukuran era 1920an (yang kemudian berlanjut hingga ke masa-masa setelahnya). Hal itu salah satunya ditopang dengan kuat oleh keberadaan toko buku-toko buku yang menyediakan berbagai bahan bacaan yang dibutuhkan oleh para konsumen buku yang berlatar belakang Muhammadiyah ini.

Penyebaran gagasan keagamaan Muhammadiyah dan citra tentang Muhammadiyah sebagai gerakan literasi, dengan demikian, sangat terbantu oleh kehadiran toko buku-toko buku ini. Di era itu, ketika tingkat literasi publik masih rendah dan bahan bacaan yang terbatas, toko buku adalah satu dari sedikit lokomotif yang membawa gerbong pengetahuan dari penulis ke hadapan para pembaca.

Pengertian tentang literasi umumnya berkenaan dengan kemampuan di bidang kognitif seperti membaca, berhitung dan mengetahui, dengan unsur-unsur seperti penulis, buku, perpustakaan, dan pembaca memainkan peranan penting.

Menilik peran penting toko buku di masa silam (dan hingga taraf tertentu masih berlaku untuk masa kini) perlulah kiranya toko buku ditambahkan pula sebagai pilar yang menyokong pembangunan budaya literasi di tengah masyarakat Indonesia. (Habis)

Editor: Nabhan

Muhammad Yuanda Zara

Muhammad Yuanda Zara

Staf Pengajar Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lost your password? Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.