Bung Tomo, Radio Pemberontakan, dan Detik-detik Revolusi 10 November

0
481

Ada benarnya adagium yang menyebutkan, setiap momentum historis selalu melahirkan tokohnya. Atau sebaliknya, setiap tokoh memiliki momentum historisnya. Begitu pula kisah pemuda bernama Sutomo (Bung Tomo). Seorang tokoh lokal dari kalangan kaum muda yang populer karena memainkan peran penting dalam momentum pra revolusi 10 November di Surabaya.

Munculnya Sang Tokoh Sebelum Revolusi 10 November

Pasca Proklamasi 17 Agustus 1945 di Jakarta, gejolak perlawanan di daerah-daerah menghadapi pendudukan Jepang dan upaya kembalinya tentara Belanda tak dapat dibendung lagi. Revolusi fisik terjadi serentak di Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, Yogyakarta, dan Surabaya. Lahirlah tokoh-tokoh muda di daerah-daerah tersebut yang bergabung dalam Komite Nasional Indonesia (KNI), Badan Keamanan Rakyat (BKR), dan lain-lain.

Selain KNI dan BKR, organisasi-organisasi aksi berskala lokal berhasil dibentuk pasca Proklamasi Kemerdekaan untuk mengawal jalannya revolusi di Surabaya. Di antaranya adalah organisasi aksi Angkatan Muda dan Pemuda Republik Indonesia (PRI). Lewat organisasi yang disebutkan terakhir inilah nama Bung Tomo kian bersinar meskipun ia bukan sebagai pucuk pimpinan.

Dalam konteks ini, membaca sejarah revolusi di Surabaya jelas harus melihat perkembangan politik nasional pasca Proklamasi Kemerdekaan yang telah memicu gerakan revolusioner di daerah-daerah (Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, Yogyakarta). Revolusi di Surabaya hanyalah sepenggal dari narasi besar “Kebangkitan Pemuda”—meminjam istilah Ben Anderson (1988)—yang bertekad mempertahankan Kemerdekaan Indonesia. Sejarawan MC. Riklefs (2005) menyebut Surabaya sebagai ajang revolusi paling hebat dalam sejarah nasional Indonesia.

Pasca Proklamasi Kemerdekaan, pekik “merdeka!” laksana mukjizat yang mampu menyatukan semangat kaum muda untuk bersatu mengusir penjajah dari muka bumi Nusantara. Jepang belum sepenuhnya menyerah. Rapat raksasa yang digelar kaum muda di lapangan Ikada, Jakarta, pada 11 September masih di bawah pengawasan ketat tentara Jepang. Di Bandung, antara Mayor Jenderal Mabuchi (panglima Jepang di Jawa Barat) dengan R. Puradiredja (Residen Priangan), telah terjadi perjanjian proses penyerahan kekuasaan secara bertahap tanpa melalui pertumpahan darah. Akan tetapi, perjanjian Puradiredja-Mabuchi ini malah dilanggar.

Baca Juga  Srikandi Aisyiyah di Karangturi

Transisi Pasca-pendudukan Jepang

Mabuchi mengelabuhi petinggi KNI Jawa Barat (Oto Iskandardinata), BKR (R. Soehari), dan Kepolisian Karesidenan (R. Jusuf), sehingga pada tanggal 9 Oktober, Jepang telah melakukan kudeta di Kota Kembang. Insiden kup oleh Jepang di Bandung dan kehadiran tentara Inggris (Sekutu) di Jawa Barat turut mempengaruhi gerakan kaum muda di sekitar Semarang, Solo, dan Yogyakarta. Hal yang sama juga terjadi di Surabaya ketika pasukan Sekutu yang datang pertama kali ke kota ini justru dari kerajaan Belanda.

Sebenarnya, pasukan Jepang di Surabaya di bawah Laksamana Shibata Yaichiro sudah sepenuhnya menyerah. Tetapi kedatangan Pasukan Sekutu (Belanda) di Surabaya di bawah komando Kapten Huijer menjadi pemicu revolusi fisik yang jauh lebih besar. Huijer sendiri membawa misi tersembunyi ingin mengembalikan dominasi pasukan Belanda atas kota Surabaya dengan mengatasnamakan Pasukan Sekutu.

Kapten Huijer telah berhasil memaksa Shibata untuk menyerahkan kekuasaan kepada Pasukan Sekutu (Belanda). Huijer sendiri melihat Doel Arnowo, ketua KNI Jawa Timur, dan R. Soedirman, Residen Surabaya, dianggap sebagai sosok-sosok yang amat mudah dipengaruhi untuk kerjasama memuluskan kepentingan pasukan Sekutu.

Akhirnya, seluruh senjata rampasan dari pasukan Jepang diserahkan kepada Doel Arnowo atas nama KNI. Tetapi dalam prakteknya, KNI Jawa Timur bukanlah organisasi yang solid. Terbukti, sebagian besar senjata rampasan dari pasukan Jepang justru jatuh ke tangan para anggota BKR, kelompok-kelompok muda revolusioner, dan gerombolan-gerombolan yang tidak terorganisir.

Radio Pemberontakan

Tampaknya, dalam tubuh KNI sendiri tidak memiliki sosok yang cukup populer di kalangan masyarakat luas. Mereka hanya kaum elit moderat yang dianggap cakap dan mudah diajak kerjasama oleh Pasukan Sekutu. Terbukti, senjata rampasan dari pasukan Jepang justru dengan muda diterima oleh kelompok BKR dan organisasi/perkumpulan revolusioner yang tidak terorganisir. Tetapi inilah sebenarnya yang menjadi cikal bakal revolusi fisik yang sangat hebat nantinya.

Baca Juga  Daniel: Dari Mimpi Yang Ditertawakan Hingga Membanggakan

Dalam kondisi seperti inilah, sosok Bung Tomo berhasil tampil dominan. Ia memang termasuk anggota PRI. Tetapi ketika tampil dominan dalam revolusi di Surabaya, Bung Tomo adalah seorang wartawan dalam Kantor Berita Domei. Pada tanggal 12 Oktober, setelah pulang dari Jakarta, Bung Tomo mendirikan stasiun pemancar radio yang disebut “Radio Pemberontakan.” Selang sehari kemudian, Bung Tomo membentuk Barisan Pemberontakan Republik Indonesia (BPRI), yang secara struktural terpisah dari PRI. BPRI inilah yang kebanyakan diisi oleh gerombolan pemuda revolusioner, para jawara, dan kelompok BKR yang kurang solid.

Stasiun pemancar “Radio Pemberontakan” adalah salah satu infrastruktur peninggalan Jepang. Bung Tomo berhasil memanfaatkan stasiun pemancar radio tersebut untuk mengobarkan semangat perlawanan lewat pidato-pidato agitatifnya. Pada zaman pendudukan Jepang, ratusan radio telah dibagi-bagikan kepada beberapa elemen dalam masyarakat di Surabaya, dari kota hingga pelosok desa. Para pejabat pemerintah, priyayi, tokoh organisasi/perkumpulan, dan kyai mendapat jatah gratis masing-masing satu buah radio transistor.

Dengan memanfaatkan stasiun radio yang siarannya dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat di Surabaya, Bung Tomo berhasil memanfaatkan alat komunikasi satu-satunya pada waktu itu yang mempun menjangkau masyarakat luas. Ia mengobarkan semangat perlawanan dengan pekik, “merdeka!” Mengawali pidato, Bung Tomo selalu menyeru, “Allahu Akbar! Allahu Akbar!” sehingga mampu menggugah semangat dari kalangan Muslim, baik di perkotaan maupun di pelosok desa.

Detik-detik Revolusi 10 November

Ben Anderson (1988: 182-183) mencatat, pidato agitatif Bung Tomo berhasil menggetarkan hati para pemimpin-pemimpin “merah” dan masyarakat santri di Surabaya, di daerah-daerah daratan dan pantai Jawa Timur, dan di Pulau Madura. Para kyai dan santri yang terpengaruh oleh pidato agitatif Bung Tomo melakukan perjalanan jauh dari pelosok menuju pelabuhan Surabaya.

Pidato Bung Tomo memiliki daya agitatif sehingga para pemimpin lokal di Surabaya dan sekitarnya tergerak untuk berjuang bersama melawan penjajah. Apa yang menarik dari pidato Bung Tomo, dalam telisik Ben Anderson (1988: 182-183), adalah daya tarik untuk menyatukan para pemimpin daerah, baik dari kalangan sekuler (kelompok merah) maupun para kyai dari pelosok. Karena mendengar seruan Bung Tomo, mereka bersedia melakukan perjalanan jauh dari pelosok menuju pelabuhan.

Baca Juga  M. Amien Rais: Bapak Reformasi Penggagas Tauhid Sosial

Dalam kondisi yang kian memanas, Bung Tomo hadir sebagai sang orator. Justru, dalam kondisi seperti itulah peran Bung Tomo dinilai sangat sentral dalam memberi semangat kepada massa yang telah berkumpul di kota Surabaya. “Soetomo (1920-81), seorang yang berapi-api dan lebih dikenal sebagai “Bung Tomo”, menggunakan radio setempat untuk menimbulkan suasana semangat revolusi yang fanatik ke seluruh penjuru kota”, tulis Riklefs.

Pasukan Sekutu dari Inggris dan India telah tiba di Surabaya pada tanggal 25 Oktober. Tujuan mereka adalah membebaskan tawanan perang warga Indo-Eropa secepat mungkin. Tetapi rakyat Indonesia di seluruh pelosok negeri sudah menaruh kebencian yang dalam sehingga kedatangan Pasukan Sekutu mendapat perlawanan sengit. Tidak terkecuali di kota Surabaya, pasukan Sekutu sebanyak 6.000 serdadu (Inggris dan India) mendapat perlawanan dari Tentara Keamanan Rakyat (TKR) sebanyak 10-20 ribu personil yang baru saja dibentuk.

Menyadari betapa kuat perlawanan TKR bersama rakyat di Surabaya, bahkan panglima pasukan Inggris (Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby) tewas di tangan pasukan Indonesia, maka pada tanggal 30 Oktober ditetapkan gencatan senjata. Tetapi selama masa gencatan senjata, Pasukan Sekutu justru mendatangkan bala bantuan dan berhasil mengungsikan para tawanan warga Indo-Eropa.

Tepat pada Subuh 10 November, pasukan Sekutu melancarkan aksi pembersihan berdarah di seluruh pelosok kota di bawah perlindungan serangan bom dari udara dan laut. Revolusi 10 November inilah menjadi momentum yang mengantarkan Surabaya sebagai “Kota Pahlawan” ketika sekitar 6.000 rakyat Indonesia gugur dalam revolusi 10 November.


IBTimes.ID - Kanal Islam Berkemajuan, dihidupi oleh jaringan penulis yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan masyarakat, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi Kamu ke Rekening

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here